Pernikahan adalah Ibadah Sepanjang Masa

8

Harapan seorang suami maupun istri adalah mempunyai keluarga yang mawaddah wa rahmah. Namun realita di masyarakat perjalanan rumah tangga sering kali mendapatkan banyak godaan, kadang bumbu berumah tangga terasa pedas bahkan pahit. Banyak juga yang berakhir dengan perceraian.

Bagaimanakah sebenarnya berumah tangga menurut agama Islam sehingga pernikahan selalu terjaga hingga tua?

Al-quran secara garis besar sebenarnya telah memberi pedoman jelas dan masuk akal. Bahwa seorang suami adalah pakaiannya seorang istri dan istri pun adalah pakaiannya suami.

Orang berpakaian tentu saja karena beberapa tujuan. Tujuan pertama untuk menutup aurat/ kekurangannya. Apabila diaplikasikan dalam berumah tangga. Seorang suami tentu mempunyai kekurangan dan seorang istri pun mempunyai kekurangan. Sehingga fungsi suami adalah untuk menutupi kekurangan yang dipunyai istri dan fungsi istri adalah untuk menutupi kekurangan yang dimiliki suami.

Menilik setiap permasalahan yang dialami orang yang berumah tangga. Pada umumnya diawali kurang menerimanya kekurangan pasangan masing-masing. Atau kurang memahami kekurangan yang dimiliki pasangan. Sehingga apabila seorang suami atau istri dapat memahami kekurangan pasangannya, dia akan menutupi kekurangan itu. Salah satu aplikasinya adalah tidak menceritakan kekurangan pasangan kepada orang lain bahkan kepada orang tuanya, apalagi bercerita di media sosial.

Kemudian yang sering dilupakan oleh pasangan suami istri adalah penerimaan kekurangan pasangan itu membutuhkan waktu dan proses yang lumayan cukup lama. Sehingga diperlukan kesabaran masing-masing pihak. Serta setiap perubahan positif yang dialami suami atau istri harus diapresiasi.

Dimana dalam proses penerimaan kekurangan pasangan biasanya diwarnai dengan pertengkaran. Sebelum hal itu terjadi maka pasangan suami istri ketika awal menikah harus membuat kesepakatan bersama apabila ada bumbu agak pedas maka jangan menceritakan masalah kepada orang lain bahkan kepada orang tua karena hal itu akan mengakibatkan melebarnya masalah. Mengapa demikian??

Karena cara pandang orang terhadap suatu masalah tentu berbeda, ada yang bijak, ada yang justru memprovokasi, ada yang justru senang dengan masalah yang kita alami. Daripada bercerita kepada orang lain lebih baik masing-masing mendinginkan pikiran dahulu, jangan terbawa emosi. Istilah orang tua dulu “ belajar mengalah”.

Serta yang perlu diingat bagi seorang suami maupun istri ketika terjadi pertengkaran, kemudian mencoba menyelesaikan adalah jangan mencari pembenaran/mencari kemenangan dan menyalahkan pasangan karena rumah tangga itu bukan perlombaan, ada yang menang dan ada yang kalah. Yang menang pun tidak mendapatkan piala.

Lebih baik mengalah, karena dengan mengalah tidak meruntuhkan derajat atau strata sosial siapapun.

Kemudian tujuan kedua orang berpakaian adalah untuk melindungi tubuh dari panasnya terik mentari dan dinginnya malam serta hal lain yang datangnya dari luar. Dalam berumah tangga pun sama masalah yang datang dari luar beraneka ragam. Misal masalah dari tempat kerja apabila suami atau masalah pekerjaan rumah seperti mencuci, memasak, mengasuh anak bagi istri.

Oleh karena nya apabila seorang suami memahami letih dan lelahnya istri tentu dia tidak akan banyak menuntut sang istri. Begitupun seorang istri ketika memahami letih dan lelahnya suami tentu tidak akan banyak menuntut suami.

Dan ketika masing-masing mengetahui keletihan dan kelelahan masing-masing, hal yang perlu dilakukan bukan menuntut tetapi bertamasya, pergi ke tempat rekreasi menghilangkan kepenatan dan kebosanan.

Apabila suami dan istri memahami dua fungsi pakaian ini saja insya allah akan terbentuk rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Karena didalamnya ada sabar, saling paham dengan prasangka yang baik dan juga menerima kekurangan. Semua itu adalah bentuk-bentuk ibadah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here