The news is by your side.

Politik Identitas dan Gelombang Aksi Bela Islam dalam Kajian Aqidah

Kemanusiaan ini, menurutnya, berdiri di atas asas yang menipu dan ilusi, yaitu kemerdekaan, persaudaraan, keadilan, dan kesetaraan (Al-Qahthani, 1997 M: 425). Pandangan-pandangan terkait al-wala wal bara secara eksklusif ini dikembangkan atas dasar dalil-dalil Al-Qur’an yang bersifat khusus pada kondisi tertentu dengan mengabaikan dalil Al-Qur’an yang bersifat umum pada situasi normal sekaligus menafikan realitas sosial dan politik yang heterogen. Kesalahpahaman atas al-wala wal bara yang dikampanyekan oleh sekelompok orang ini kemudian menciptakan keresahan di tengah masyarakat dengan sistem sosial dan politik yang kompleks, dan menciptakan eksklusitivitas umat Islam serta mendorong umat untuk berlaku tidak adil.

Pandangan yang cenderung eksklusif ini terjadi karena sekelompok itu menyeleksi dalil-dalil yang mendukung pandangan eksklusif dan intoleransi mereka dengan mengabaikan dalil-dalil Al-Qur’an lainnya yang bertentangan dengan pemahaman mereka. Kesalahpahaman atas pengamalan al-wala wal bara ini berkontribusi besar pada praktik eksklusif beragama beberapa tahun belakangan di Indonesia.

Sikap itu ditandai dengan menguatnya politik identitas, gerakan intoleransi atas keragaman preferensi politik setidaknya pada Pilpres 2014, Pilkada DKI Jakarta 2017, dan Pilpres 2019. Kesalahpahaman atas al-wala wal bara ini juga mengambil bentuk hoaks dan ujaran kebencian atas nama agama, dan pelbagai gelombang aksi bela ini dan aksi bela itu sekurangnya 5 tahun belakangan di Indonesia. Dalam fiqih keseharian, mereka bisa jadi bermazhab Syafi’i dan melakukan amaliyah Ahlussunnah wal Jamaah seperti tahlilan, ziarah kubur, dan lain sebagainya. Tetapi secara aqidah, mereka secara sadar atau tidak, mengikuti penafsiran eksklusif atas al-wala wal bara yang dikampanyekan oleh kelompok Syekh Muhammad bin Abdul Wahab dan penerusnya.

Yang perlu diingat adalah bahwa al-wala wal bara diamalkan dalam konteks jihad sebagaimana keterangan Syekh Ibnu Taimiyah (661 H/1263 M-728 H/1328 M) atas Surat Al-Mujadalah ayat 22 dalam karyanya, Kitab Al-Iman halaman 21-22. Sebagaimana dimaklumi, jihad termasuk al-wala wal bara yang menjadi turunannya menuntut ketentuan dan syarat tertentu, salah satunya perintah jihad atau perang yang diumumkan oleh pemerintah seperti diatur dalam fiqih siyasah.

Pengamalan al-wala wal bara dalam situasi normal, dalam hal ini kontestasi elektoral pemilu, tidak memenuhi syarat. Adapun penolakan terhadap simbol negara seperti lagu kebangsaan dan hormat bendera merupakan pengamalan al-bara yang berlebihan, melewati batas, dan tidak berdasar. Wallau a‘lam.

Penulis: Alhafiz Kurniawan
Editor: Muchlishon

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/112205/politik-identitas-dan-gelombang-aksi-bela-islam-dalam-kajian-aqidah
Konten adalah milik dan hak cipta www.islam.nu.or.id

Baca juga resensi buku lainnya :

  • Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
  • Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
  • Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.
Leave A Reply

Your email address will not be published.