Strategi Pertahankan Otoritas Islam Nusantara

3
Strategi Pertahankan Otoritas Islam Nusantara
Suasana sesi panel 1 dengan tema Sumber-sumber Tekstual-Material dan Otoritas Keagamaan dalam Islam Nusantara pada Simposium Nasional Islam Nusantara yang digelar di Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Sabtu (8/2). (Foto: NU Online/Ubaidillah)

Jakarta, NU Online

Islam datang ke Nusantara belakangan ini, jauh setelah wilayah Timur Tengah, Asia Tengah, Eropa, Asia Selatan, baru kemudian hadir di Nusantara yang berada di wilayah Asia Tenggara. Namun, keislaman masyarakatnya tak lagi diragukan. Kuatnya jaringan intelektual di dalamnya berpengaruh besar terhadap corak keislaman dunia saat ini.

Pengajar Fakultas Islam Nusantara Ahmad Ginanjar Syaban menyampaikan sebuah tesis yang ditulis oleh Sayid Hasan Syuaib di Fakultas Tarbiyah Universitas Ummul Qurra yang menyebutkan bahwa 60 persen pengajar Mazhab Syafi’i di Masjidil Haram adalah ulama Nusantara.

“Ini yang Syafi’i 60 persen pengajarnya dalam masa awal Saudi adalah Jawiyun, ulama dari Nusantara, baik yang datang ke Makkah ataupun lahir di Makkah dalam rentang abad 20,” katanya saat menanggapi pemaparan narasumber pada sesi panel 1 dengan tema Sumber-sumber Tekstual-Material dan Otoritas Keagamaan dalam Islam Nusantara pada Simposium Nasional Islam Nusantara yang digelar di Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Sabtu (8/2).

Tentu saja, lanjutnya, murid para ulama Nusantara itu adalah orang-orang seluruh dunia. Ginanjar menghitung terdapat lebih dari 40 pengajar asal Nusantara di Masjidil Haram pada masa awal Kerajaan Saudi. Dari sini, ia berkesimpulan bahwa wilayah Nusantara memiliki lompatan besar dalam sejarah keislaman dunia. Artinya, meskipun kehadirannya belakangan, namun memiliki pengaruh besar dalam mewarnai dunia Islam dan Islam di dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here