NU Punya Visi Global untuk Peradaban Umat Manusia

20

Sepanjang tahun 2019 tak kurang dari 15 duta besar negara bersilaturahim ke PBNU. Juga tamu-tamu luar negeri seperti rombongan para ulama Irak, intelektual Muslim Neval, pengusaha dari Maroko, dan negara-negara lain. Pada tahun 2019 juga Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj didaulat sebagai Wakil Presiden Religion for Peace dan masuk ke dalam jajaran tokoh berpengaruh di dunia.

Sebaliknya, pengurus PBNUjuga menghadiri berbagai forum dunia. Dua tahun sebelumnya, Katib Aam KH Yahya C Staquf sempat menghadiri undangan Israel. Di tahun yang sama, kiai yang akrab disapa Gus Yahya itu memenuhi undangan Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence, di Gedung Putih, Washington DC.

Pada awal Januari tahun ini Gus Yahya kembali diundang dalam pertemuan antaragama dunia di Vatikan. Di waktu yang tak jauh berbeda, KH Said Aqil Siroj menerima kunjungan Commanding General of Armed Forces Security Center, RTARF Lt. Gen. Wichai Chucherd dari.

Beberapa hari kemudian, Kiai Said menerima kunjungan Menteri Pertahanan Malaysia Mohamad Sabu. Belum lagi pengurus PBNU yang lain serta kader NU sendiri baik di lembaga maupun badan otonom yang memiliki aktivitas dengan tokoh luar negeri.

Menurut Gus Yahya, peran luar negeri NU sudah berlangsung sejak awal berdiri. NU sendiri lahir sebagai respons atas situasi luar negeri, khususnya Timur Tengah. Respons itu ditunjukkan dengan pengiriman delegasi yang dinamakan Komite Hijaz yang dipimpin KH Abdul Wahab Chasbullah. Masih menurut Gus Yahya, dari lambangnya saja, NU secara tursurat mencantumkan bola dunia. Artinya, NU merespons tak hanya di dalam negeri, tapi luar negeri.

Dan kalau ditelisik majalah-majalah NU seperti Swara Nahdlatoel Oelama, Berita Nahdlatoel Oelama, dan Oetoesan Nahdlatoel Oelama, para tokoh NU memperkenalkan isu dunia kepada Nahdliyin di kampung-kampung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here