The news is by your side.

Telaah Metode Penyusunan Kitab Sunan An Nasa’i

Telaah Metode Penyusunan Kitab Sunan An Nasa’i | NU Online LTN Nahdlatul Ulama Jawa Barat

Dina Nurin al Aulia – Hadis merupakan sumber ajaran kedua bagi umat Islam setelah Al-Qur’an. Dalam hal ini ulama sangat berhati hati dalam menyeleksi dan mencari hadis -hadis yang diriwayatkan oleh Nabi. Kepenulisan hadis telah dilakukan sejak zaman kepemimpinan Kholifah Umar Bin Abdul Aziz, pada masa itu beliau memberikan perintah untuk mengumpulkan seluruh hadis yang ada di wilayah Islam. Penghimpunan hadis ini terus berjalan dan mengalami kemajuan yang sangat pesat sampai dapat memunculkan kitab- kitab hadis di berbagai daerah.

Pada awalnya kitab -kitab yang bermunculan masih berisikan hadis dalam berbagai kualitas salah satunya adalah kitab al muwatho karya Imam Malik yang didalam kitab ini berisikan hadi shohih, hasan maupun dhoif. Dan setelah masa ini barulah muncul kitab -kitab yang sistematika kepenulisannya berdasarkan nama – nama sahabat yang meriwayatkan hadis (al musnad). Ulama yang pertama menyusun kitab dengan sistematika ini adalah abu dawud al- tayalisi dan diikuti oleh imam – imam setelahnya. Sekitar abad ke 3 hijriyyah barulah muncul sistematika kepenulisan berdasarkan urutan bab -bab fiqih, kitab yang akan kita kaji dalam pembahasan ini yakni sunan an nasa’i menggunakan sistematika ini dalam penyusunan kitab hadisnnya.

Imam an nasa’i memiliki nama lengkap Ahmad ibn Syu’ayb ibn Alī ibn Sinān ibn Bahr ibn dīnār Abu Abdurrahman al-Khurāsānī an-Nasā’ī, al-Qāḍī, al-Ḥāfiz. Lahir di Nasa’ yang sekarang lebih dikenal dengan kota Turkmenistan, sekitar tahun 215 H/830 M, ada beberapa perbedaan tentang tahun berapa beliau lahir, hal ini dikarenakan penjelasan dari murid beliau. Sejak kecil an- nasai sudah menaruh minat belajar pada keilmuan hadis dan ketika mengginjak usia 15 tahun beliau sudah menjelajah berbagai kota pusat dari ilmu peradaban islam. Ketika itu beliau juga berguru hadis pada ulama- ulama terkemuka pada zaman itu dan sempat menetap di mesir untuk waktu yang agak lama.

Ketika berada di Mesir imam an -nasai dikenal sebagai seorang yang ahli dalam ilmu hadis, seperti di bidang al-jarh wa al- ta’dīl. Al -khathib menyebutkan bahwa ketika imama an – nasai tinggal di mesir masyarakat disana sangat mengagumi beliau dan ketika menyebut namanya selalu diawali dengan gelar al-Imām al-Hafidz Syaikh al-Islam Abū Abdurrahman an-Nasā’ī . kecakapannya dalam ilmu hadis tidak lepas dari kegigihannya untuk menelusuri dan berguru kepada ulama- ulama besar seperti Qutaibah ibn Sa’īd, Yaḥyā ibn Mūsā, Isḥāq ibn Rāhawaih, Abī Syaibah, Ibrāhīm ibn Yūsūf, ‘Uṡmān ibn Mahmūd ibn Ghilan, Muḥammad ibn Abdullah ibn Umar, Alī bin Hajr, Aḥmad ibn Manīi’, Sa’īd ibn Ya’qūb dan masih banyak lainnya.

Kitab sunah an- Nasa’i termasuk dalam ‘’ kutub al- khamsah’’, kitab yang termasuk dalam kategori ini adalah kitab Shohih Bukhori, Shohih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Tirmizi dan juga Sunan An- Nasa’i. Perbedaan kitab sunan an- nasai dengan kitab shohih terdapat dalam kualitas hadisnya, kitab Sunan An Nasa’i tidak hanya memuat hadis shohih namun juga terdapat hadis hasan dan juga dhoif. Sebelum terkenal dengan nama kitab Sunah An- Nasai kitab ini melewati proses yang cukup panjang, dari mulai as-Sunan al-Kubra, as-Sunan as-Sughra, al-Mujtaba, dan sampai dengan nama yang sangat dikenal pada masa kini yakni Sunan An- Nasa’i.

Imam an – Nasai sangat teliti dalam penyeleksian kualitas suatu hadis yang ditulis dalam kitab kedua yang diberi nama as-sunan as-sughra dan karena penyeleksian hadisnya sangat ketat banyak yang menjuluki kitab ini dengan sebutan kitab al-mujtaba dan para ulama berkomentar bahwa kedudukan kitab ini dibawah derajat shahih bukhari dan juga shahih muslim. Sistematika kepenulisan kitab ini diawali dengan membahas ‘’ kitab al-Thaharoh’’ dan di akhiri dengan ‘’kitab al-Mawaqit’’. Nama al- mujtaba lebih populer dari pada sunan as- sughra, dan dengan berjalannya masa dua nama itu tidak lagi seharum dulu dan tergantikan dengan nama Sunan An- Nasa’i.

Banyak perbedaan ulama ketika menilai kualitas dari kitab hadis ini, ada yang berpendapat bahwa hadis yang terdapat didalamnya adalah shohih semua dan ada yang berpandapat bahwa hadis didalamnya banyak memuat hadis dhoif. Namun menurut para ahli hadis pada umumnya berpendapat bahwa hadis dhoif yang ada pada kitab ini sedikit serta kitab ini menempati urutan keempat dari kutubut al sittah karena kualitas hadisnya lebih tinggi dari kitab Sunan Al- Tirmizi maupun Musnad Ahmad Bin Hambal. Dan ada beberapa ulama yang berpendapat bahwa kitab ini setingkat lebih tinggi dari pada kitab Sunan Abu Dawud karena ketatnya penyeleksian kualitasnya.

Kitab sunan an nasai memuat sekitar 5.761 hadis, walaupun kitab ini juga memuat hadis dhof namun Imam An Nasai memberikan penjelasan mengenahi ke-dhaifan hadis tersebut, baik bersumber dari sanadnya maupun dari matan hadis.

Penulis
dina nurin al aulia
Leave A Reply

Your email address will not be published.