Ulasan KH Imam Jazuli Tentang Sejarah Dan Strategi Gerakan Khilafah Nusantara

74

Oleh KH. Imam Jazuli, Lc. MA.*

Ide mendirikan kembali kekhalifahan Turki Usmani dimulai dari Palestina oleh Taqiyuddin an-Nabhani (1953). Namun, ide Hizbut Tahrir itu terus dikembangkan ke kawasan lebih luas, seperti Ingris, Amerika, Australia, Jerman, dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Gerakan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) beroperasi di bawah kibaran semangat mendirikan “Khilafah Nusantara”.

Sejarah dan pendirian HTI tidak bisa lepas dari kontrol pemimpin Hizbut Tahrir di Australia. Mama Abdullah bin Nuh dan Abdurrahaman al-Baghdadi adalah tokoh Hizbut Tahrir Australia menjadi otak utama HTI. Al-Baghdadi datang ke Indonesia, mendirikan pondok pesantren di kota Bogor, dan merekrut mahasiswa-mahasiswa dari kampus Institut Pertanian Bogor. Kedatnagan al-Baghdadi ke Bogor tahun 1982 tidak lepas dari peran penting Abdullah bin Nuh yang mengundangnya untuk mengisi kajian di pesantren al-Ghazali tersebut (Agus Salim, 2005).

Momentum politik yang layak ditunggangi saat itu adalah karakter rezim Orde Baru yang represif. Mahasiswa-mahasiswa IPB tertarik dengan nalar HTI yang disebarkan oleh al-Baghdadi dari satu masjid ke masjid lainnya. Sehingga Badan Kerohanian Islam Mahasiswa (BKIM) pada kampus IPB menjadi ‘kuda tunggangan’ yang diperah habis-habisan demi mendapatkan anggota baru. Tahun 1987-an, Lembaga Dakwah Kampus (LDK) terbentuk untuk mengembangkan sayap HTI di berbagai kampus, baik di Bogor, Surabaya, dan Makassar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here