Ulasan KH Imam Jazuli Tentang Sejarah Dan Strategi Gerakan Khilafah Nusantara
Karena dicitrakan sebagai gerakan pendidikan dan intelektual, pada awal-awal kebangkitan HTI banyak orang tidak sadar akan bahaya latennya. Hal itu bisa terlihat ketika HTI menggelar banyak seminar ilmiah dan konferensi, dengan mengundang para pakar dari berbagai bidang disiplin ilmu, termasuk intelektual muslim liberal, oknum kementerian, akademisi, tokoh publik, dan lainnya. Beberapa tokoh yang bisa disebut Abu Bakar Ba’asyir (ulama), Sidney Jones (pakar kajian terorisme), dan Siti Fadhilah Supari (Menteri Kesehatan). Tujuan HTI disembunyikan, tapi aroma untuk mencari dukungan ilmiah tercium keras.
Sebut saja ketika Republika (02/4/2005) melaporkan demonstrasi massa yang diorganisir HTI mengangkat kritik kebijakan menaikkan harga minyak. Saat itu tidak ada yang sadar bahwa isu sekular dapat saja ditunggangi demi spirit ide khilafah. Di balik isu-isu sekuler, yang sama sekali tidak bersentuhan dengan agama, ideologi khilafah bisa menungganginya. Kemudian perlahan-lahan HTI menggeser temanya, yakni mengorganisir massa demonstran untuk menunjukkan solidaritas sosial atas penderitaan umat muslim di dunia.
Hal yang paling miris sejak HTI bercokol di bumi Nusantajra, fungsi masjid beralih menjadi ajang organisir tujuan-tujuan politik praktis. HTI memanfaatkan masjid-masjid untuk menyebarkan propaganda mereka. Pola ini sudah ditengarai terjadi sejak tahun 1980-an (Agus Salim, 2005). Namun, perlu dicatat, masjid-masjid yang dominan dimanfaatkan adalah yang dekat dengan kampus dan menjadi perangkap untuk target utama mereka, yakni mahasiswa dan profesional. Dewan Kerja Masjid (DKM) menjadi kaki tangan HTI yang paling efektif. Khatbah-khatbah di hari jum’at pun tak lepas dari bidikan HTI untuk melakukan propaganda. Melalui media masjid, Pesantren Kilat, Pondok Ramadhan, perayaan Maulid Nabi, dan even-even besar agama Islam perlahan tapi pasti mulai beraroma ideologis-politis. Tidak sepenuhnya steril untuk tujuan penguatan akidah dan akhlak umat muslim.[]
*alumni Universitas al-Azhar, Mesir; Alumnus Universitas Kebangsaan Malaysia Departemen Politik dan Pertahanan; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia; Wakil Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah; Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Periode 2010-2015.
Baca juga resensi buku lainnya :
- Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
- Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
- Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.



