Wanita dan Genggamannya

213

Kemudian, keterlibatan wanita di ruang publik pada masa awal Islam dicontohkan oleh Khadijah. Beliau menjadi tempat bersandar, pemberi dukungan, dan pembelaan bagi Nabi Saw. Kedudukan

sosial Khadijah di Mekkah saat itu difungsikan untuk menguatkan dan memberikan sokongan kepada Nabi Saw. Bukan hanya tenaga dan pikiran yang diberikan Khadijah dalam membela Nabi Saw, tetapi juga meliputi harta demi meringankan beban kaum Muslim yang saat itu berada dalam masa pemboikotan oleh kaum Quraisy. Selain itu, terdapat cerita dari sahabat Anas Ra. tentang peristiwa perang Uhud dimana beliau melihat ‘A`isyah dan Ummu Sulaim sangat cekatan dalam memberikan dukungan dan bantuan kepada pasukan kaum Muslim untuk melawan musuh. ‘Aisyah juga orang yang meringankan kesedihan Rasulullah Saw. lantaran para sahabatnya tidak segera melakukan perintah beliau.[5] M. Atho’ Mudzhar dan Khoiruddin Nasution dalam Hukum Keluarga di Dunia Islam Modern mengutip perkataan Ibnu Kasir yang menyebutkan, bahwa pada masa awal berdirinya Islam telah banyak wanita yang luar biasa. Mereka adalah Aisyah binti Abu Bakar, Hafsah binti Umar, Juwairiah binti Harits bin Abu Dhirar, Khadijah binti Khuwailid, Maimunah binti Harits, Ummu Salamah, Zainab binti Jahsy, Fatimah binti Muhammad, Ummi Kultsum binti Muhammad, Zainab binti Muhammad, dan lainnya.

Dalam peningkatan kualitas sumber daya wanita, khususnya di Kalimantan, Indonesia. Minimal ada enam tokoh wanita yang telah mengukir jasa dan peranan penting dalam masyarakat, karena menguasai ilmu agama, pendidik, dan berahlak mulia. Keenam tokoh tersebut adalah Hj. Noor Asyikin Hasyimi (mendirikan Madrasah Norma Islam Samarinda, Majelis taklim An Nur, dan Yayasan Pendidikan Islam An Nur di Tanah Merah), Hj. Nursiyah Abul Hasan (aktif melakukan pengajian dari rumah ke rumah maupun di masjid), Hj. Siti Rohani Asykari (mendirikan Yayasan Al Jawahir yang bergerak di bidang pendidikan dari tingkat taman kanak-kanak hingga madrasah aliyah di Samarinda), Hj. Qoni’ah (mendirikan dan membina majelas taklim yang bertempat Masjid Al-Maruf Lembuswana), KM. Siti Shagirah Usman (banyak mengisi taklim-taklim, pengajian di Radio Masjid Raya Darussalam Samarinda dan pimpinan Pondok Pesantren Islam Teknologi Center di Samarinda Ulu), dan terakhir Prof. Dr. Hj. Muriah (mendirikan puluhan taklim dan forum bagi ibu-ibu yang bertujuan untuk mencerahkan mereka dan penulis yang produktif).[6]

Penulis
Taufik Hidayat
Iklan Layanan Masyarakat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here