Adzan dan Solidaritas sosial
Suatu hari, seorang rekan kerja, seorang muslim, tetapi muslim KTP, namun menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan, artinya bukan orang yang egois-individualistis serta menjalani hidup sewajarnya sebagai manusia di tengah-tengah masyarakat. Namun mempunyai hobi membeli togel, tidak sholat, tidak puasa, dll. Bertanya kepada penulis.
Dia bertanya kepada penulis, tentang adzan yang memakai pengeras suara, bagaimana pendapat Bapak? Pertanyaannya sederhana, tetapi sensitif dan menggelitik. Bagi figur yang pemahaman keagamaannya belum mengendap, maka pertanyaan Bapak tadi akan menimbulkan masalah kepada yang bertanya, seperti kasus ibu yang di Medan tadi.
Masalahnya bukan kepada adzan itu sendiri. Masalahnya terhadap “ cara” adzan dan pilihan penggunaan media. Mengapa adzan di setiap masjid dan musolla harus memakai pengeras suara? Sehingga menimbulkan suara gaduh dan “ saur manuk”, serta dalam tahapan tertentu dapat mengganggu orang-orang yang tidak berkepentingan, orang yang sedang istirahat, yang sakit, atau kelompok muslim yang notabene merupakan bagian dari kemajemukan itu sendiri.
Baca juga resensi buku lainnya :
- Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
- Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
- Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.



