Adzan dan Solidaritas sosial
Jika tiap-tiap masjid, musolla dan rumah tiap-tiap muslim sudah ada jam penunjuk waktu, juga jadwal sholat, kemudian sudah ada satu atau dua masjid-musolla yang mengumandangkan adzan melalui pengeras suara, bukankah itu sudah cukup memadai? Sedang masjid dan musolla lain mengumandangkan adzan tanpa pengeras suara. Bukankah “ teks” adzan dimanapun kapanpun sama, baik di masjid NU, Muhammadiyah, FPI, MTA, atau wahabi-salafi sekalipun?
Ini agar kita dapat menjaga keserasian antara “ kewajiban ritual” berupa adzan, dengan “ kewajiban sosial”, dengan menghormati, menghargai, memahami, menjaga “ kemajemukan “ iman dan kepentingan yang ada, hidup dan berkembang dalam masyarakat negeri kita.***
*) Penulis adalah al faqir ilmu. Kader NU pinggiran. Pengasuh Ponpes Bumi Aswaja Lapas Klas IIB Cilacap.
Baca juga resensi buku lainnya :
- Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
- Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
- Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.



