The news is by your side.

Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Sayyiah

Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Sayyiah | NU Online LTN Nahdlatul Ulama Jawa Barat

Sofiyyul Chalim Ali Musafa – Kita sudah tidak asing lagi dengan istilah bid’ah, dan istilah bid’ah tersebut juga sering disandingkan dengan istilah sunnah, kyai hasim as’ari menjelaskan dalam kitabnya risalah ahlussunnah wal jama’ah bahwa bid’ah merupakan kemunculan perkara baru dalam agama dan mirip seperti bagian dari ajaran agama tersebut, padahal dilihat dari formalitas dan hakekat dia bukan bagian dari agama tersebut.

Penjelasan tersebut sesuai dengan hadis nabi yang menyatakan “barang siapa yang memunculkan suatu perkara baru dalam urusan agama (agama islam khususnya) yang perkara tersebut bukan bagian dari agama, maka perkara tersebut tertolak”. Dan hadis nabi juga menyatakan bahwa setiap perkara baru adalah bid’ah.

Para ulama menafsirkan dari kedua hadis tersebut bahwa semua perkara yang baru dalam urusan agama itu tergolong bid’ah, hal ini disebabkan karena ada kemungkinan baru yang muncul dalam agama, namun masih sesuai dengan syari’at atau salah satu cabang dari syariat tersebut.

Bid’ah dalam artian lain, diartikan sebagai kemunculan perkara baru yang sebelumnya belum ada, seperti firman allah swt dalam Q.S al-baqarah ayat 117 yang berbunyi:

بَدِيْعُ السَّموتِ وَاْلاَرْضِ

Artinya: Allah swt yang menciptakan langit dan bumi

Dari keterangan ayat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi yang sebelumnya belum ada, maka langit dan bumi itu tergolong perkara bid’ah, karena bumi dan langit tersebut tergolong perkara baru yang diciptakan Allah.

Adapun bid’ah dalam hukum islam yaitu segala sesuatu yang diada adakan oleh ulama, yang perkaranya tersebut belum ada di zaman rosulullah, dengan pernyataan tersebut timbullah pertanyaan, apakah semua perkara yang diada-ada oleh para ulama itu semuanya bid’ah, dan harus ditinggalkan?

Menyikapi pertanyaan tersebut dengan berdasarkan keterangan di atas, memang benar semua perkara yang diada-ada oleh para ulama itu semua bid’ah, bidah disini bukan berati wajib ditinggalkan dan tidak boleh diamalkan, karena belum tentu pernyataan para ulama tersebut bertentangan dengan syariat agama, meskipun pada zaman nabi belum ada.

Bid’ah tersebut ada dua kemungkinan, mungkin baik diamalkan meskipun nabi tidak pernah dicontohkan oleh nabi, dan mungkin lagi tidak baik dan harus ditinggalkan, imam syafi’i pernah berkata:

اَلْبِدْعَةُ ِبدْعَتَانِ : مَحْمُوْدَةٌ وَمَذْمُوْمَةٌ, فَمَاوَافَقَ السُّنَّةَ مَحْمُوْدَةٌ وَمَاخَالَفَهَا فَهُوَ مَذْمُوْمَةٌ

Artinya: “Bid’ah ada dua, bid’ah terpuji dan bid’ah tercela, bid’ah yang sesuai dengan sunnah itulah yang terpuji dan bid’ah yang bertentangan dengan sunnah itulah yang tercela”.

Sahabat Umar bin Khotob setelah melakukan sholat tarawih berjamaah dengan dua puluh orang dengan diimami sahabat Ubay bin Ka’ab beliau berkata:

نِعْمَتِ اْلبِدْعَةُ هذِهِ

Artinya: “sebagus bagus bid’ah itu ialah perkara ini (solat tarawih berjamaah)”

Juga ditemukan hadis nabi yang menjelaskan bahwa bid’ah itu ada yang hasanah dan ada yang sayyiah hadis tersebut diriwayatka oleh imam Ahmad dalam kitabnya musnad Ahmad hadis nomor 18404,

حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَاصِمِ ابْنِ أَبِي النَّجُودِ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ جَرِيرٍ أَنَّ قَوْمًا أَتَوْا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْأَعْرَابِ مُجْتَابِي النِّمَارِ فَحَثَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النَّاسَ عَلَى الصَّدَقَةِ فَأَبْطَئُوا حَتَّى رُئِيَ ذَلِكَ فِي وَجْهِهِ فَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ بِقِطْعَةِ تِبْرٍ فَطَرَحَهَا فَتَتَابَعَ النَّاسُ حَتَّى عُرِفَ ذَلِكَ فِي وَجْهِهِ فَقَالَ مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَمِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْتَقَصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً عُمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يُنْقِصُ ذَلِكَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ashim bin Abu An Najud dari Abu Wa`il dari Jarir bahwa suatu kaum dari kalangan Arab Baduwi mendatangi Nabi dengan mengenakan An Nimar (sejenis pakaian yang tersulam dari kain wol). Maka Rasulullah memberikan anjuran kepada para sahabatnya agar bersedekah, namun mereka berlambat-lambat dalam menanggapinya, dan kekecewaan itu terlihat pada wajah Rasulullah. Kemudian datanglah seorang laki-laki dari Anshar dengan membawa Tibr (lempengan emas atau perak) dan menyerahkannya. Setelah itu, para sahabat pun ikut bersedekah, hingga kegembiraan itu tampak pada wajah beliau. Maka beliau pun bersabda, “Barang siapa yang memulai kebiasaan yang baik dalam Islam, lalu kebiasaan itu pun diamalkan setelahnya, maka baginya adalah pahala dan pahala seperti pahala mereka yang mengerjakannya tanpa mengurangi dari pahala mereka sedikit pun. Sedangkan, siapa yang memulai kebiasaan yang buruk dalam Islam, lalu kebiasaan itu pun diamalkan setelahnya, maka dosanya akan dibebankan ke atasnya, dan baginya dosa seperti dosa mereka yang melakukannya tanpa mengurangi sedikit pun dari dosa mereka.”

Penulis
Sofiyyul chalim ali musafa
Leave A Reply

Your email address will not be published.