The news is by your side.

Joker dan Kebencian yang Menjalar

Joker dan Kebencian yang Menjalar | NU Online LTN Nahdlatul Ulama Jawa Barat

Oleh Muhammad Daniel Fahmi Rizal – Publik sempat terhenyak saat Joker muncul pertama di layar bioskop awal bulan ini. Film besutan Todd Philips yang menghadirkaan Joaquin Phoenix sebagai karakter utama mampu diperankan dengan luar biasa. Joker adalah karakter villain, ikonik dari DC Comics. Seringkali karakter ini menjadi antitesis dari Batman, pahlawan andalan DC Comics. Namun, Joker kali ini dibikin menjadi karakter yang mandiri. Phillips mengatakan bahwa Joker versinya tidak seperti Joker yang sebelumnya hadir dalam komik-komik. Lebih penting lagi, Joker versi Phillips bukanlah karakter yang terikat dengan DC Extended Universe alias semesta film superhero DC. Ini membuat film Joker muncul tanpa ada beban keterikatan dengan film-film lain.

Film Joker menceritakan kisah hidup sosok Arthur Fleck. Fleck adalah lelaki yang penuh dengan beban hidup. Dia menderita pseudobulbar affect (PBA), gejala yang membuat dirinya tidak bisa mengontrol ekspresi tawa. Di momen-momen yang tidak menyenangkan pun, Fleck bisa tertawa terbahak-bahak. Dia bahkan sampai harus mencekat tenggorokannya agar tawanya berhenti. Ke mana-mana Fleck juga membawa kartu yang berisi pesan bahwa dia menderita kelainan.

Hidup Fleck begitu merana. Dia tinggal di kota Gotham yang sarat dengan kriminalitas, kemelaratan, ketimpangan sosial, dan wabah penyakit. Fleck mengalami masalah dengan tempatnya bekerja. Masyarakat di tempatnya tinggal tidak bersahabat. Fleck juga mengalami masalah mental membuatnya harus rutin berkonsultasi kepada dokter. Di tengah berbagai beban hidup pribadinya, dia juga harus mengurus ibunya yang sudah sakit-sakitan.

Fleck ingin sekali menjadi komedian tunggal. Namun, dia tidak bisa membuat materi komedi dengan baik. Buku hariannya penuh dengan coretan liar, yang terkadang isinya begitu sadis dan destruktif tanpa ada sisi komikal sama sekali. Obsesinya ingin tampil di acara The Murray Show. Tidak hanya tampil, Fleck juga menyimpan keinginan untuk disayang dan dianggap anak oleh pembawa acara pertunjukan, Murray Franklin. Keinginannya ini bahkan sampai menimbulkan waham dan delusi, figur Franklin tengah memeluknya dengan hangat.

Leave A Reply

Your email address will not be published.