Jokowi dan Metamorfosa Kekuasaan

95

Tuhan telah memilih hambanya. Itulah ungkapan yang tulus dan ungkapan yang bersandar kepada teks suci agama dalam mendeskripsikan kehadiran Jokowi dalam memimpin negeri ini ( QS.3 : 26 ).

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Terjemah Arti: Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Agama adalah pedoman yang paling fundamental. Jika budaya di tiap zaman selalu  bergeser, pada setiap generasi selalu berubah, dan pada setiap tempat dapat berbeda, maka agama terhadap yang pokok tidak berubah dan tidak berbeda, kendati menghadapi perubahan zaman dan di tafsiri oleh generasi pada zaman dan tempat yang tidak sama.

Maka kehadiran Jokowi adalah berkah. Berdasarkan sejarah, tidak ada kepemimpinan yang di dalam dirinya terakumulasi semua kebaikan atas atribusi sifat dan gaya kepemimpinan. Ketika Tuhan ingin mendatangkan kebaikan pada suatu negeri, maka Tuhan mengangkat seorang pemimpin yang baik, dan diberinya pula pembantu-pembantunya yang baik.

اِذَا اَرَادَ اللهُ بِاْلاَمِيْرِ خَيْرًا جَعَلَ لَهُ وَزِيْرَ صِدْقٍ، اِنْ نَسِيَ ذَكَّرَهُ وَ اِنْ ذَكَرَ اَعَانَهُ. وَ اِذَا اَرَادَ بِهِ غَيْرَ ذلِكَ جَعَلَ لَهُ وَزِيْرَ سُوْءٍ، اِنْ نَسِيَ لَمْ يُذَكّرْهُ وَ اِنْ ذَكَرَ لَمْ يُعِنْهُ. ابو داود

Jika Allah menghendaki kebaikan seorang penguasa, maka diberinya pembantu (menteri) yang baik (jujur), jika lupa diingatkan dan jika ingat dibantu. Dan jika Allah menghendaki sebaliknya dari itu, maka Allah memberi padanya pembantu (menteri) yang jelek (tidak jujur), jika lupa tidak diingatkan, jika ingat tidak dibantu. [HR. Abu Dawud]

Penulis
Toufik Imtikhani, SIP.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here