Lima Buku yang Direkomendasikan Gus Dur untuk Santri

313

Buku terakhir yang direkomendasikan Gus Dur adalah buku-buku atau serpihan pemikiran dari ekonom Belanda di masa lalu, yaitu J.H, Boeke tentang “Dua Economi”, ekonomi formal dan nonformal. Kritik utama yang disampaikan oleh Gus Dur dari hasil membaca catatan Boeke adalah semestinya pemerintah tidak hanya menganakemaskan sektor formal. Karcis atau retribusi yang dikumpulkan oleh para pedagang di pasar tradisional itu saja kalau dikumpulkan sebenarnya jumlahnya bisa lebih besar dari pajak usaha formal. Kira-kira begitu, jika pemerintah hendak “berbisnis” dengan rakyat. Ada satu kaidah fiqih yang sering diulang-ulang oleh Gus Dur: “Tashurruful imam alar roiyyah manutun bil maslahah”, bahwa apapun kebijakan pemerintah harus berorientasi menyejahterakan rakyatnya.

Terlepas dari sosok seorang Gus Dur yang secara dramatis disebut “pintar sebelum lahir” karena anak dan cucu orang-orang besar, ia adalah seorang pembaca yang budiman. Bahkan semasa kecil konon ia sudah mengkhatamkan buku monumental Das Kapital karya Karl Mark, buku yang saat ini terancam akan disita oleh aparat keamanan.

Banyak kutipan menarik Gus Dur terkait kegemarannya membaca buku yang layak dibikin quote. Misalnya begini, kata Gus Dur: “Sebodoh-bodohnya orang adalah yang meminjamkan buku. Namun lebih bodoh lagi, yang meminjam buku lalu dikembalikan.”

Iklan Layanan Masyarakat

Syahdan, Gus Dur bukanlah orang yang paling rajin membaca buku. Ada cerita menarik dari sumber kedua namun bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya. Seorang yang lebih ‘gila’ dalam membaca buku bernama Hasyim Wahid. Diceritakan, setiap pulang dari luar negeri Gus Dur selalu membawa buku baru, kemudian diberikan kepada adiknya itu. Suatu ketika Gus Dur mendapatkan kritik pedas dari sang adik, tidak jelas ini terkait apa. Tidak tanggung-tanggung, kritiknya menggunakan buku referensi yang diberikan oleh kakanya sendiri. Gus Dur tidak bisa berkelit karena kritiknya memang benar-benar ilmiah, atau bahasa pesantrennya ada maroji’-nya. Lalu Gus Dur menjawab enteng, “Kamu itu memang kurang kerjaan. Masa dibawain buku sebanyak itu kog dibaca semua!”

*Penulis adalah redaktur NU Online, pernah nyantri di Pesantren Ciganjur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here