Mati Cara NU
Namun bagi kelompok ketiga, yaitu masyarakat NU, dengan dikuburnya jenazah seseorang, bukan berarti segala urusan yang hidup kepada yang mati selesai. Bagi seorang anak pun, tugas untuk berbakti kepada orang tuanya tidak ada kata putus, walau bapak-ibunya sudah meninggal dunia. Bagi setiap muslim/mu’min yang hidup, kewajiban kepada saudaranya yang sudah meninggal pun masih berlaku. Ingat dawuh Kanjeng Nabi, Al mu’minun akhul mu’min kalbunyanun wahid. Orang mu’min dengan orang mu’min yang lain ibarat satu bangunan yang utuh.
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lainnya. Tidak boleh mendhaliminya dan tidak boleh pula menyerahkan kepada orang yang hendak menyakitinya. Barangsiapa yang memperhatikan kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memperhatikan kebutuhannya. Barangsiapa yang melapangkan kesulitan seorang muslim, niscaya Allah akan melapangkan kesulitan-kesulitannya di hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi kesalahan seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi kesalahannya kelak di hari kiamat”
- Bukhari no. 2442, Muslim no. 2580, Ahmad no. 5646, Abu Dawud no. 4893, at-Tirmidzi no. 1426 ; dari Abdullah bin ‘Umar radliyallahu ‘anhuma.
Syariat Allah yang diturunkan kepada umat Muhammad, berbeda dengan syariat yang diturunkan kepada Nabi-nabi yang lain. Umat Muhammad adalah umat akhir zaman, tetapi umat ini sangat dicintai oleh Allah. Ini adalah umat yang afdhal. Semua tentu berkat Nabi kita Muhammad SAW.
Seorang mu’min dapat memberikan syafa’at kepada mu’min yang lain, baik ketika hidup, atau sesudah matinya. Seorang anak kelak akan diangkat sederajat dengan bapaknya. Anak perempuan dapat menjadi wasilah orang tuanya masuk syurga, atau bisa jadi menyeretnya ke dalam neraka.
Demikian juga syafa’at para ulama, para syuhada, dan Nabi. Sebagaimna dalam sebuah hadist disebutkan, yusaffi’ullaahu tsalasatun. Alanbiya, stummal ‘ulama stummasysyuhada. Allah akan memberikan syafa’at kepada tiga golongan. Para Nabi, kemudian para ulama, dan kemudian para syuhada.
Masing-masing golongan ini akan diijinkan dan bisa memberikan syafa’at kepada beberapa orang dari keluarganya, saudaranya, umatnya. Dan syafa’at terbesar tentu dari Nabi kita Muhammad SAW.
Keyakinan semacam ini yang menyebabkan optimisme bagi masyarakat NU untuk tetap beramal sholeh, walaupun kepada orang yang sudah meninggal, apalagi jika orang tua kita. Maka dalam tradisi kita, pas-ca kematian, masih tetap dihidupkan hari-hari berkabung dengan bacaan yaasin-tahlil hingga tujuh hari, empat puluh hari, seratus, hingga seribu hari.
Baca juga resensi buku lainnya :
- Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
- Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
- Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.




Amazing