Melihat Virus Corona dari Dalam China
Jika dilihat melalui instrumen yang tepat, coronavirus akan menampakkan diri sebagai gumpalan mirip bola yang permukaannya ditumbuhi rambut-rambut. Mirip buah rambutan. Atau perbandingan yang lebih pas, mirip dengan wajah matahari pada saat puncak gerhana matahari total dalam ilmu falak. Rambut-rambut itu merupakan korona yang memiliki arti mahkota, sehingga virus mendapatkan namanya sebagai coronavirus. Informasi coronavirus Wuhan mulai tersalurkan kepada mahasiswa di Xi’an pada awal tahun 2020, tepat pada saat pergantian tahun 2019 ke 2020. Dan benar adanya seperti yang diberitakan bahwa coronavirus ini memang menjangkit dan menular begitu cepat. Kecepatan itu membuat takut banyak pihak.
Di samping informasi dari otoritas yang berwenang di sini, mahasiswa khususnya asal Indonesia juga banyak menerima aneka informasi dari tanah air. Dengan kadar akurasi yang tidak jelas seperti banyak termuat di aneka media sosial. Misalnya isu tentang orang China yang gemar menyantap makanan-makanan ekstrem seperti daging anjing, kucing, kelelawar dan sebagainya. Daging dari hewan-hewan yang dianggap tidak lazim dikonsumsi sehingga coronavirus ini disebabkan oleh hal itu. Lantas isu yang tak kalah seram, tentang coronavirus Wuhan sebagai agen senjata biologi yang bocor dari salah satu laboratorium rahasia di dekat kota. Ada juga isu bahwa coronavirus Wuhan adalah azab bagi pemerintah Tiongkok terkait perilaku kontemporer mereka, dan seterusnya.
Sebagai orang yang sedang belajar di daratan China, saya cukup shock atas aneka informasi yang menyebar dan cukup meresahkan itu. Jarak antara Xi’an dan Wuhan setara dengan jarak antara Jakarta dan Surabaya di Indonesia, jadi ya cukup dekat secara geografis dan terasa menakutkan.
Tapi apa yang saya lihat dan rasakan selama kurang setahun tinggal di tengah-tengah warga Xi’an, tidak semua prasangka itu terbukti. Misalnya, tidak semua orang China gemar mengonsumsi makanan ekstrem seperti daging anjing, kucing, kelelawar dan sebagainya. Teori makanan ekstrem sebagai penyebab penularan coronavirus Wuhan pun bisa diperdebatkan. Karena di Indonesia ada juga lho pangsa pasar daging ekstrem seperti kalong, kelelawar, reptilia dan sebagainya. Paling menonjol di Sulawesi, meski banyak juga dijumpai di tempat-tempat lain termasuk Jawa. Dan sejauh ini tak dijumpai kejadian penularan coronavirus di Indonesia. Bahkan pada negara semaju Jepang pun terdapat kultur makanan ekstrem seperti ikan Fugu, ikan paling beracun di dunia. Namun daging Fugu justru menjadi salah satu makanan favorit orang Jepang.
Baca juga resensi buku lainnya :
- Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
- Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
- Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.



