Moderatisme dan Ekstremisme dalam Agama
Apa sih sebenarnya makna ekstrem itu dan bagaimana? Ekstrem menurut KBBI yaitu: paling keras, paling ujung, sangat teguh, dan fanatik. Ekstremitas adalah perbuatan yang melewati batas. Dalam Islam dikenal juga ghuluw yaitu berlebih-lebihan dalam suatu perkara yang mengakibatkan seseorang melenceng dari agama, yang ditengarai dengan sikap fanatik terhadap suatu pandangan tertentu, berprasangka buruk terhadap kelompok lain, dan bahkan sampai pada tahap mengafirkan jika berbeda pandangan.
Ada beberapa faktor yang menjadikan seseorang atau sebuah kelompok menjadi ekstrem, di antaranya adalah mempelajari agama (Islam) secara parsial, menyimpulkan hukum berdasarkan pengetahuan minim, menentukan hukum secara langsung dari nash dengan metode yang kaku, tidak berusaha memahami apa maksud dan tujuan suatu ayat atau hadits terlebih dahulu, tidak peduli perubahan zaman, dan juga memahami Al-Qur’an serta hadits apa adanya (secara harfiah).
Jika melihat ke belakang, ekstremitas ini telah muncul bahkan sebelum adanya Islam. Tercatat dalam Al-Qur’an bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani bersikap ekstrem dalam mengagungkan pemimpinnya, beberapa ayatnya yaitu:
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka, sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (Q.S At-Taubah: 31)
“Katakanlah, Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas), dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad), dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. (Q.S Al-Maidah: 77)
Yahudi mengatakan serta meyakini Uzair adalah anak Tuhan, dan Nasrani juga mengatakan bahwa Isa adalah anak Tuhan yang dikemas dalam konsep Trinitas. Alasan mereka menjadikan Isa anak Tuhan adalah karena ia lahir tanpa ayah. Padahal itu adalah hal yang biasa. Jika kita bandingkan dengan bapak manusia yaitu Nabi Adam yang lahir tanpa ayah dan ibu, maka Nabi Adam lah yang berhak mendapat gelar anak Tuhan. Inilah sikap berlebihan di kalangan ahli kitab yang justru menyesatkan mereka dari jalan yang lurus.
Baca juga resensi buku lainnya :
- Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
- Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
- Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.


