The news is by your side.

Moderatisme dan Ekstremisme dalam Agama

Pada zaman Rasulullah pun ekstremitas telah terjadi di kalangan para sahabat. Sahabat nabi merupakan manusia biasa (basyar), mereka tidak ma’shumdan tak luput dari kesalahan. Ekstremitas di kalangan sahabat terjadi karena gairah semangat beragama yang tinggi, tapi bisa segera diredam dan diatasi langsung oleh nabi. Namun, setelah Nabi Muhammad SAW wafat, ekstremitas semakin menjadi-jadi dan tak bisa terbendung. Terutama pada masa kekhalifahan ‘Ali bin Abi Thalib yang pada saat itu bermunculan berbagai kelompok seperti Syiah, Murjiah, dan Khawarij.

Pada akhirnya kita harus bisa memahami segala sesuatu khususnya agama dengan moderat (tawasuth, tawazun, dan i’tidal), Moderat dalam beragama akan menjadikan hidup kita tenang, tenteram dan bahagia. Coba kita renungkan saat telunjuk kita menunjuk untuk mengafirkan orang lain, ada berapa jari yang kembali kediri kita sendiri? Hal itu merupakan isyarat agar kita tidak seenaknya menuduh orang lain.

Bahkan dalam kitab Sullam al-Taufiq tertulis, jika kita menuduh orang lain kafir, maka dirinya sendiri telah menjadi kafir. Salah satu dari ciri Ahlusunnah wal Jamaah adalah tidak gampang mengafirkan orang lain. Imam Abu Hasan Al-Asy’ari pernah menulis dalam kitabnya Maqalat Islamiyyin saat menjelaskan Aqidah Aswaja: 

“Mereka Ahlusunnah wal Jamaah tidak mengafirkan seseorang dari ahlul qiblah sebab perbuatan dosa seperti berzina, mencuri, dan sesamanya dari dosa-dosa besar. Mereka dengan keimanan yang bersama mereka adalah orang-orang mukmin, meskipun melakukan dosa-dosa besar.”

Selain itu, dalam kitab Mukhtar al-Ahadits terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abi Amamah bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:

أحسن الى جارك تكن مؤمنا و أحب للناس ما تحب لنفسك تكن مسلما

“Berbuat baiklah dengan sebaik-baiknya pada tetangga, maka kamu akan menjadi mukmin, dan cintailah manusia seperti halnya kamu mencintai diri sendiri, maka kamu akan menjadi seorang Muslim.”

Dari sini saya bisa mengambil kesimpulan bahwa agama Islam adalah agama cinta. Perlu dipertanyakan keislamannya jika seorang Muslim beragama tanpa adanya cinta.

Penulis adalah alumnus Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta, saat ini sedang melanjutkan studi di Universitas Dakwah, Beirut, Lebanon

Baca juga resensi buku lainnya :

  • Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
  • Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
  • Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.
Leave A Reply

Your email address will not be published.