Pendidikan di Era Disruptif
Sehebat apapun kurikulum, hukum, dan aturan tidak akan efektif jika aktornya berlepas dari itu. Kita sudah cukup banyak aturan tapi minim praktik. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan perlu kiranya kita meraih karakter sebagai berikut: kemampuan mengelola emosi secara efektif, trust worthiness atau kejujuaran dan integritas, memiliki tanggung jawab, adaptability atau flexibel serta siap menghadapi tantangan dan perubahan.
Beberapa alumni Universitas Indonesia pernah mengeluhkan bahwa mereka kalah bersaing dengan Perguruan Tinggi swasta, apa sebabnya? “alumni UI cenderung kurang loyal dan sering minta gaji tinggi” begitu kata Arry Rahmawan dosen muda UI. Ternyata untuk memasuki dunia kerja tidak hanya dibutuhkan hard skill. Oleh karena itu harmonisasi potensi manusia sebagai mahluk yang unik dan multidimensi perlu diperhatikan.
Keterampilan Abad 21
Abad 21 ditandai dengan adanya kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi informasi telah menggantikan beberapa fungsi guru dan buku dengan kecanggihan artificial intellegent ( kecerdasan buatan). Namun perlu diingat kecanggihan robot tidak akan sepenuhnya menggantikan manusia. Daya ingat dan daya hapal manusia di era disrupsi tidak menjadi patokan sebagai output terbaik. Peserta didik di era kini dituntut untuk memiliki kemampuan kreatif dan inovatif, bersikap kritis, dapat memecahkan masalah, mampu berkomunikasi, berkolaborasi dan memiliki kecakapan literasi informasi.
1. Berpikir Kritis dan Mampu Memecahkan Masalah
Berpikir kritis dan problem solving dapat diartikan tidak mudah percaya pada suatu kabar dan berita yang belum diverifikasi, mampu mengidentifikasi berbagai permasalahan yang komplek, dapat menganalisa, mensintesa informasi sehingga dapat memberikan solusi terbaik bagi sebuah masalah. Proses pembelajaran dan evaluasi atau tes pembelajaran harus berfokus pada hal ini. Oleh karena itu sudah saatnya siswa diajak untuk berpikir ala HOTS (Hight Order Thinking Skill). Soal ujian tidak melulu menguji daya ingat dan hapalan saja. Pembelajaran harus dapat mengajak siswa untuk mendapatkan makna di balik fakta yang tampak. Berbagai kemungkinan peluang di masa depan harus menjadi atensi siswa dan pengajar agar siswa dapat menghadapi masa depan dengan berbagai persiapan dan perencanaan.
Pada setiap bidang studi di akhir semester idealnya siswa diberi tugas untuk menyelesaikan sebuah proyek atau penelitian agar dapat melatih siswa untuk menyelesaikan masalah dan dapat melatih siswa menerapkan ilmu pengetahuannya dalam tataran praktis.
Baca juga resensi buku lainnya :
- Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
- Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
- Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.




Kebebasan berekfresi tanpa di landasi degan iman dan takwa suka kebabasan.