The news is by your side.

Sanskrit dan Islam Asia Tenggara: Bumi Pertiwi itu Syirik?

Bahkan seharusnya semua mushaf Al-Quran yang tercetak sekarang ini seharusnya membuang semua angka Hindi yang dipakai dalam mushaf sebagai penanda ayat dan sebagai penanda halaman lembaran Quran. Bukankah semua angka yang dipakai dalam mushaf Al-Quran itu adalah angka Hindi? Apakah Anda tahu apakah yang disebut sebagai ‘adadul Hind dalam Quran? Itulah “angka Hindu.”

Apakah Anda sudah semakin cerdas bila menghilangkan yang bernuansa Hindu di dalam Quran? Silakan Anda menjawabnya sendiri bila Anda orang yang bernalar. Masihkah Anda mau menghilangkan istilah “pertiwi” atau pun istilah “Sri” dalam bahasa kita di Indonesia? Apakah Anda masih ingat ada orang yang bernama Abdus Syams dari kalangan bangsa Arab Quraisy? Apakah artinya عبد الشمس (‘Abdus Syams) hanya sekedar bermakna “hamba matahari” atau justru bermakna “hamba Dewa Matahari”? Begitu juga bila istilah “Santri” dipersoalkan, maka “Hari Santri” lebih baik diganti saja menjadi “Hari Taliban.”

Kalau ada orang yang bukan ahli berbahasa Sanskrit, dan kemudian berbicara di ruang publik, pasti akan menyesatkan banyak orang dan timbulah kegaduhan. Tulisan ini saya buat sebagai jawaban bagi mereka yang mempermasalahkan penggunaan “Sri” atau “pertiwi” yang kasusnya sedang viral saat ini. Padahal kata “pertiwi” berasal dari bahasa Sanskrit, yakni “prthivi” artinya “bumi.” Apakah Anda sudah memahami bahasa Sanskrit dan bahasa Indonesia secara baik dan benar?

Leave A Reply

Your email address will not be published.