Tata Cara Berwudhu dengan Menggunakan Air Keran
Berikut ini adalah di antara adab berwudhu dengan menggunakan keran:
- Orang yang berwudhu disunnahkan menghadap ke arah kiblat.
- Wudhu dilaksanakan di tempat yang airnya bisa mengalir lancar sehingga tidak menggenangi lokasi berwudhu.
- Usahakan cari tempat yang airnya tidak mudah menciprat ke tubuh dan lokasi sekitar. “Adapun adab wudhu ada delapan. Di antaranya adalah menghadap kiblat, berada di tempat yang airnya bisa mengalir dan tidak menciprat. (Syekh Ahmad bin Muhammad, Al-Lubab, [Madinah: Darul Bukhari, 1416 H], hlm. 68)
- Apabila memungkinkan, wudhu disunnahkan dengan duduk. Sebaiknya tidak duduk di atas toilet, sebab wudhu merupakan kegiatan ibadah kepada Allah, sedangkan toilet adalah tempat membuang kotoran.
- Posisi keran di depan orang wudhu bagian kiri. Menurut Sayyid Hasan Al-Kâf dalam kitab Al-Aham, memposisikan keran di sebelah kiri akan memudahkan orang yang berwudhu bisa menjalankan sunnah-sunnah wudhu yang lainnya. Contohnya ketika orang yang berwudhu ingin membersihkan kotoran yang ada di dalam hidung disunnahkan menggunakan tangan kiri, maka tangan kiri orang yang berwudhu sudah dekat dengan keran. Begitu pula ketika menyela jari-jari kaki, orang yang berwudhu dianjurkan menggunakan tangan kiri, keran di yang berada di sebelah kiri akan cukup memudahkan tangan kiri menyela jari kaki.
Sedangkan apabila orang yang berwudhu menggunakan gayung, dianjurkan memposisikan bak wudhu di sebelah kanan supaya tangan kanan lebih mudah mengayuh gayung dari bak tersebut.
- Membuka tuas keran secukupnya. Bukalah tuas keran sesuai kebutuhan supaya tidak berlebihan dalam menggunakan air wudhu. Rasulullah ﷺ bersabda: “Jangan berlebihan!” Lalu ada yang bertanya kepada Nabi, “Ya Rasulullah, apakah di dalam wudlu juga ada istilah berlebih-lebihan?”, Rasul bersabda “Iya, pada setiap hal, bisa saja ada berlebih-lebihannya” (HR. Al-Hakim dan Ibnu Asakir). Berlebihan atau israf dalam berwudlu banyak yang disebabkan karena was-was, sebuah perasaan tidak nyaman dan ragu apakah airnya sudah merata ke semua anggota wudhu atau belum. Orang was-was bisa membasuh angggota wudhu sampai mengulang berulang kali sehingga menjadi boros air. Was-was bisa timbul akibat bisikan jenis setan tertentu yang mempunyai tugas mengganggu orang dalam menggunakan air. Rasulullah ﷺ bersabda: “Dan dari Abi Sa’d berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya dalam wudhu ada satu syaitan yang dinamakan ‘walhan’, maka takutlah kalian terhadap was-was dalam (menggunakan) air” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
- Membasuh bagian tangan dimulai dari siku. Dalam masalah ini, terdapat perbedaan pandangan antar ulama. Menurut Imam Ramli, saat berwudhu menggunakan keran, ketika membasuh kedua tangan, sebaiknya mendahulukan bagian siku terlebih dahulu, kemudian diakhiri basuhannya sampai telapak tangan. Berbeda apabila seseorang berwudhu dengan menggunakan gayung, Imam Ramli berpendapat, sebaiknya dimulai dari telapak tangan terlebih dahulu, kemudian diratakan sampai siku.
- Mengusap sebagian kepala dengan mengambil air dari keran. Tidak mengusap sebagian kepada dengan menggunakan sisa air yang menempel di tangan bekas basuhan tangan yang wajib.
- Membasuh kaki dimulai dari ujung jari. Saat membasuh kaki, bagi orang yang berwudhu dengan menggunakan kran, sebaiknya dimulai dari ujung jari, kemudian diratakan hingga tumit dan anggota kaki yang lain. Apabila menggunakan gayung atau bak air, sunnahnya adalah memulai basuhan dari tumit, kemudian diratakan ke area yang lain.
- Pastikan kesucian tuas keran. Jangan sampai menyentuh tuas keran dengan tangan yang terkena najis!. Jika tuas keran sampai tersentuh najis, tuas harus disucikan dengan cara dicuci tuasnya. Hal ini penting diperhatikan karena tuas yang najis dan tidak dicuci, lalu tersentuh dengan tangan, kemudian shalat, bisa mengakibatkan shalatnya tidak sah.
Usaha kita dalam menyempurnakan wudhu sebagai bentuk totalitas penghambaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, semoga mendapat ridha dari Allah subhanahu wa ta’ala, amin. Wallahu a’lam.
Ustadz Ahmad Mundzir, Pengajar di Pesantren Raudhatul Qur’an an-Nasimiyyah, Kota Semarang
Baca juga resensi buku lainnya :
- Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
- Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
- Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.



