The news is by your side.

Bulan Suro dan Mahabbahnya Orang Jawa Terhadap Nabi

Gus Muwafiq mengatakan, berbagai peringatan Suro bukanlah bentuk syirik sebagaimana tudingan sebagian orang. Ini hanyalah bentuk penghormatan masyarakat kepada sosok yang mereka sangat cintai: Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

Hal ini tidak jauh berbeda jika suatu keluarga menghindari waktu tertentu untuk dijadikan hari pesta pernikahan. Alasannya, misalnya, pada tanggal atau hari itu merupakan hari wafatnya bapak atau ibu mereka.

“Jadi kalau ada orang bilang bulan Suro itu tidak Islam, saya bingung,” katanya. Justru peringatan-peringatan duka di bulan Suro merupakan bentuk kecintaan umat Islam pada kekasih Allah itu.

“Ini caranya orang Jawa mengingat peristiwa tragis (yang dialami) cucu Kanjeng Nabi,” ujar Gus Muwafiq. “Sampai segitu mahabbahnya orang Jawa terhadap Nabi.”

Baca juga resensi buku lainnya :

  • Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
  • Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
  • Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.
Leave A Reply

Your email address will not be published.