The news is by your side.

Gaung Gerakan ‘Muslim tanpa Masjid’ di Indonesia

Karena geneologi yang mudah didistingsikan itu, Kuntowijoyo kemudian melihat ada pola geneologi lain keislaman yang tidak masuk dalam dua geneologi yang sudah ada dan mapan di Indonesia kala itu. Dan ini yang kemudian dicatat oleh Kuntowijoyo sebagai gerakan “Muslim tanpa Masjid.” Sebagaimana ini kemudian digambarkan dalam sajak bait puisi karyanya:

Generasi baru Muslim telah lahir dari rahim sejarah, tanpa kehadiran sang ayah, tidak ditunggui saudara-saudaranya. Kelahirannya bahkan tidak didengar oleh Muslim yang lain. Tangisnya kalah keras oleh gemuruh teriakan-teriakan reformasi” (Kuntowijoyo, 1999).

Kuntowijoyo melihat bahwa geneologi ini lahir dari belahan dunia pendidikan SD, SMP dan SMA dengan pengalaman pendidikan yang hanya digembleng dan tunduk di bawah pembekalan yang disampaikan oleh para mentornya. Tepatnya, lahir dengan dibidani oleh kelompok Rohis(Rohani Islam) yang menjadi bagian dari Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) di setiap lembaga tersebut. Dan pemahaman mereka ini rupa-rupanya tidak terkawal dan terdeteksi sejak dini oleh dua lembaga yang sudah mapan sebelumnya di Indonesia, yaitu NU dan Muhammadiyah.

Saat mereka, para keluaran dari Rohis ini, melanjutkan studinya di universitas-universitas serta perguruan tinggi, mereka disatukan kembali dalam budaya membentuk halaqah dengan lingkup terbatas. Di sini mereka mendapatkan gemblengan dari para murabbi (tutor rohani) dan dicekoki oleh berbagai selebaran, berita, buletin, majalah, CD yang tidak diketahui sumber dan validitasnya. Semangat keislaman mereka yang tinggi, dijauhkan dari gemblengan ala pesantren dan masjid-masjid yang sudah ada, guna menjaga geneologi baru yang tengah dibangun dan dipupuk itu.

Inilah kelompok yang kemudian yang disemati oleh Kuntowijoyo sebagai Muslim tanpa masjid. Jadi, maksud dari judul buku itu adalah untuk menunjuk pola gerakan penanaman watak keislaman yang eksklusif (tertutup) serta tidak melalui jalur yang sudah mapan, seperti pesantren dan masjid-masjid. Kultur mereka sebagai yang menyempal dari dua geneologi religiusitas dan keislaman ala Indonesia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.