The news is by your side.

Gaung Gerakan ‘Muslim tanpa Masjid’ di Indonesia

Ternyata tidak. Mereka menggelar sebuah acara yang dilaksanakan di halaman parkir Universitas Atmajaya dengan alasan doa dan tarawih bersama terhadap korban reformasi. Gerakan ini kemudian sempat disindir oleh Cak Nur sebagai yang diragukan kemurniannya muncul dari hati nurani mahasiswa. Ada faktor X yang tidak bisa disebutkan oleh Cak Nur. Buntutnya ternyata benar, bahwa ada gerakan politis yang hendak dilakukan oleh mereka. Hanya saja yang kemudian patut dijadikan pertanyaan adalah apa motif politik itu?

Tidak terdeteksinya gerakan ini oleh Cak Nur, ternyata kemudian disoroti oleh Kuntowijoyo. Karena lama ia mengamati peta gerakan Muslim kampus ini, ia kemudian mengajukan sebuah tesa pemikiran bahwa itu pasti bersumber dari pola kajian yang selama ini dilakukannya. Kemudian pengamatan itu dilanjutkan olehnya terhadap bahan-bahan mentoring. Ternyata benar, bahwa mereka lebih suka merujuk pada kajian-kajian yang disampaikan oleh Hasan al-Banna, Sayyid Qutub, Syekh Taqiyuddin al-Nabhani, Ali Syariati dan Al-Maududi yang memang sempat beredar luas di kalangan mahasiswa kampus, termasuk PT Agama Islam Negeri.

Buahnya kemudian terjadi akumulasi kepentingan yang mengatasnamakan diri sebagai penegak khilafah. Sebagian darinya mengakumulasi dalam wadah partai politik yang hingga saat ini masih eksis di Indonesia, dan mereka didirikan oleh para tokoh yang suka mengambil referensi keislaman dari Syekh Hasan al-Banna dan Sayyid Qutub. Adapun sisi lain yang tidak mau mewadah dalam kelembagaan politik kala itu, menyempal sendiri bergabung dalam Hizbut Tahrir Indonesia. Dan mereka ini yang sering merujuk kepada Syekh Taqiyuddin an-Nabhani.

Kedua ciri dari peta gerakan Muslim tanpa masjidini memang hingga detik ini masih punya eksklusivitas (ketertutupan) ajaran dan doktrin yang kuat. Dan semua itu, titik awalnya berangkat dari Rohis dan jamaah-jamaah pengajian kampus yang meninggalkan akar dua geneologi keislaman Indonesia dengan berbagai jargon yang dimilikinya.

Muhammad Syamsudin, Pengasuh Pesantren Hasan Jufri Putri Pulau Bawean dan Wakil Sekretaris Bidang Maudlu’iyah LBMNU PWNU Jawa Timur

Leave A Reply

Your email address will not be published.