Mengolah Potensi Nahdlatul Ulama
Masalah politik
Ketika NU lahir, ia tidak berada dalam ruang hampa ( in-vacuum ), tetapi ia berada dalam ruang sejarah revolusi yang sesak. Bahwa NU lahir bukan semata-mata masalah persoalan agama, yaitu ditentangnya kebiasaan ziarah kubur dan bermadzhab, iya. Tapi NU lahir dalam kandung revolusi poiitik mengusir penjajahan Belanda. Sehingga NU tidak bisa dilepaskan dari politik.
Ketika era multi-partai pada tahun 1945, NU bergabung dalam wadah partai politik Masyumi. Namun pada tahun 1952, NU keluar dan menjadi partai politik sendiri. Keluarnya NU dari masyumi dikarenakan NU merasa didlolimi oleh kelompok Islam lain yang berfusi dalam Masyumi. Pada tahun 1955, Partai NU untuk pertama kalinya mengikuti Pemilu. Hasil yang dipero;eh NU sangat menggembirakan. NU menjadi pemenang tiga besar dalam Pemilu 1955, setelah PNI dan Masyumi.
Setelah Orde Baru berkuasa, NU kembali berfusi bersama musuh-musuh politiknya di Masyumi di era Orde Lama, dan bergabung dalam Partai Persatuan Pembangunan. Hal ini mengikuti ketentuan pemerintah ( 1975 ) yang hanya mengijinkan dua partai politik dan golongan kekaryaan ( Golkar ). Pada masa inilah NU banyak dikecewakan dalam beberapa kebijakan Partai PPP. Terutama pada masa J. Naro menjadi Ketum PPP. Sehingga pada Muktamar NU tahun 1984, dipelopori oleh KH. As’ad Syamsul Arifin ( Situbondo ) KH. Ali Maksum Yogyakarta, KH. Idham Khalid, mewakili kelompok Cipete Jakarta, dari kalangan tua, Abdurrahman Wahid, Gaffar Rahman, dan Slamet Effendi Yusuf, mewakili golongan muda, NU memutuskan kembali kepada Khittah 1926. Kembalinya NU ke Khittah 1926, tetap tak lepas dari masalah impuls politik. Di sini kita melihat bahwa NU tidak bisa lepas dari politik.
Periode berikutnya, NU kembali ke kancah politik praktis pada tahun 1999, melalui sayap politiknya yang disebut Partai Kebangkitan Bangsa. Pada periode ini, karier politik tokoh NU mencapai puncaknya, ketika KH. Abdurrahman Wahid terpilih sebagai presiden RI ke-4. Walaupun hanya mengalami masa yang pendek, namun semua itu membuktikan bahwa secara politik NU mempunyai kekuatan yang besar. Pada pemilu terbaru ini pun PKB tercatat sebagai pemenang Pemilu ke 5, setelah PDI-P, Gerindra, Golkar dan Nasdem. Namun ada hal yang membanggakan, Rois Aam PB NU, kembali terpilih sebagai wakil presiden periode 2019-2024, yaitu KH. Ma’ruf Amien. Sebelumnya juga tercatat H. Jusuf Kalla, Mutasyar NU, sebagai Wapres. Pendek kata, secara faktual, kekuatan politik NU telah dapat diinventarisir. Salah satu faktornya adalah adanya sayap politik NU, yaitu PKB.
Baca juga resensi buku lainnya :
- Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
- Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
- Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.



