Santri dan Pesantren Cianjur Punya Sejarah yang Bernilai

94
Mama Ciharashas (bertongkat) hendak berhaji tahun 1983

Fardan Abdul Basith – Hari Santri Nasional ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015. Pada 22 Oktober 1945 oleh para santri dan ulama pondok pesantren dari berbagai penjuru Indonesia yang mewajibkan setiap Muslim untuk membela tanah air dan mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari serangan penjajah.

Maraknya Issue Rasisme dimedia sosial dan Deradikalisme dikalangan masyarakat akhir-akhir ini, seperti kasus Terbakarnya polisi saat mengamankan Aksi Demonstrasi di pendopo Cianjur dalam upaya menyampaikan hak-hak Demokrasinya sebagai bagian dari warga masyarakat cianjur yang kita ketahui dari media sosial atupun secara langsung sangat memilukan bagi kita semua sebagai bangsa dan umat beragama secara dangkal mungkin banyak penilaian bahwa dinamika dan tragedi bangsa tersebut merupakan bentuk penjajahan masa kini.

Cianjur identik dengan slogan “Ngaos, Mamaos dan Maenpo” yang sudah me-nasional yang menunjukkan bahwa Cianjur Sugih Mukti. Slogan tersebut seharusnya menjadi citra diri (karekter/ciri khas) masyarakat Cianjur dimanapun dia berada. Bukan hanya sebatas slogan ansich, tetapi harus “membumi” dalam pikir dan laku.

Citra diri ini (ngaos, mamaos dan maenpo) merupakan inheren dalam kehidupan santri, misalnya;

  1. Ngaos (mengaji) adalah kewajiban bagi seorang santri. Ngaos/ngaji terbagi 2; ngaji kitab dan ngaji diri.
  2. Mamaos (nembang), santri melakukan shalawat, puji-pujian, kasidah/rebana, dll.
  3. Maenpo (silat/jaga diri), dalam dunia ponpes, santri diajari ilmu kanuragan, baik itu pencak silat (silat cimande, cikalongan, paku sari jurus 5, Jeblag, dll) ataupun olah tubuh yg lainnya. Hal itu, untuk menjaga diri para santri dari orang-orang jahat.
Penulis
Fardan Abdul Basith S.Pd

2 COMMENTS

  1. Tambahan:
    Ngaos, Mamaos dan Maenpo, seharusnya menjadi citra diri (karekter/ciri khas) masyarakat Cianjur dimanapun dia berada. Bukan hanya sebatas slogan ansich, tetapi harus “membumi” dalam pikir dan laku.
    Citra diri ini (ngaos, mamaos dan maenpo) merupakan inheren dalam kehidupan santri, misalnya;
    a. Ngaos (mengaji) adalah kewajiban bagi seorang santri. Ngaos/ngaji terbagi 2; ngaji kitab dan ngaji diri.
    b. Mamaos (nembang), santri melakukan shalawat, puji-pujian, kasidah/rebana, dll.
    c. Maenpo (silat/jaga diri), dalam dunia ponpes, santri diajari ilmu kanuragan, baik itu pencak silat (silat cimande, cikalongan, paku sari jurus 5, Jeblag, dll) ataupun olah tubuh yg lainnya. Hal itu, untuk menjaga diri para santri dari orang-orang jahat. Wassalaam…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here