The news is by your side.

Santri dan Pesantren Cianjur Punya Sejarah yang Bernilai

Cianjur sendiri merupakan salah-satu daerah di priangan yang banyak menelurkan cikal bakal ulama-ulama besar di jawa barat, sebut saja Mama Ajengan KH Ahmad Syuja’i Ciharashas (selajutnya Mama Ciharashas), Cianjur, Jawa Barat, kurang mendapat perhatian dalam sejarah NU. Sementara ia, melalui pesantrennya, adalah pemasok kiai-kiai yang menjadi pengurus NU di Priangan Barat.

(dikutip dari Media NU Online) Mama Ciharashas lahir di Kampung Tugu, Desa Pasirhalang, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi 15 Juni 1910 M. Ia merupakan putra dari pasangan KH Gojali SIngapraja dan Ny. Hj. Hafsah. Pendidikan formal Mama Ciharashas hingga sekolah desa dan Sekolah Vervolg (sekolah Belanda) pada 1926-1927. Pendidikan selanjutnya ia dapatkan di berbagai pondok pesantren.

Beberapa pesantren yang berguru Mama Ciharashas adalah Pesantren Sumursari Garut dari tahun 1927-1928, kemudian nyantri ke Pesantren Gentur yang diasuh KH Mama Ajengan Ahmad Syatibi (Mama Kaler) dan Mama Ajengan KH Ahmad Kurtubi (Mama Kidul) mulai tahun 1929-1938.

Penulis
Fardan Abdul Basith S.Pd

Baca juga resensi buku lainnya :

  • Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
  • Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
  • Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.
2 Comments
  1. Jens Kreasi Sahabat says

    Tambahan:
    Ngaos, Mamaos dan Maenpo, seharusnya menjadi citra diri (karekter/ciri khas) masyarakat Cianjur dimanapun dia berada. Bukan hanya sebatas slogan ansich, tetapi harus “membumi” dalam pikir dan laku.
    Citra diri ini (ngaos, mamaos dan maenpo) merupakan inheren dalam kehidupan santri, misalnya;
    a. Ngaos (mengaji) adalah kewajiban bagi seorang santri. Ngaos/ngaji terbagi 2; ngaji kitab dan ngaji diri.
    b. Mamaos (nembang), santri melakukan shalawat, puji-pujian, kasidah/rebana, dll.
    c. Maenpo (silat/jaga diri), dalam dunia ponpes, santri diajari ilmu kanuragan, baik itu pencak silat (silat cimande, cikalongan, paku sari jurus 5, Jeblag, dll) ataupun olah tubuh yg lainnya. Hal itu, untuk menjaga diri para santri dari orang-orang jahat. Wassalaam…

    1. LTNNU Jabar says

      haturnuhun pangersa, sae pisan… parantos digabungkeun dina artikel di luhur. salam..

Leave A Reply

Your email address will not be published.