Santri dan Pesantren Cianjur Punya Sejarah yang Bernilai
Kemudian ia berguru ke KH Raden Husen (Mama Ciajag) bin KH Ahyad Cianjur, KH DJunaidi Tangerang, juga untuk para habib, diajak Habib Ali Al-Attas, Bungur, Cikini, Jakarta, Habib Muhammad Al-Haddad, Tegal, Jawa Tengah, Habib Syekh bin Salim Al-Attas.
Begitu pula setelah Mama Ciharashas mendirikan Pesantren Asy-Syuja’i, banyak dukungan dari masyayikh agar menjadi pengurus Nahdlatul Ulama. Anjuran itu didukung Habib Muhammad Al-Haddad, Tegal, Jawa Tengah, Habib Syekh bin Salim Al-Attas, Sukabumi, dan Al-Habib Utsman Al-Idrus, Bandung.
“Ketika Habib Utsman Al-Idrus, melaksanakan sebagai Rais Syuriah PWNU Provinsi Jawa Barat, dengan pendirian yang teguh, dilandasi ilmu agama yang kuat dan mendalam, serta dirancang oleh masyayikh, maka dengan keputusan bulat, Mama Ciharashas menjadi Pengurus PCNU Kabupaten Cianjur,” ungkap buku yang diterbitkan dalam kerangka Haul Mama Ciharashas pada 1434/2013.
Kemudian Mama Ciharashas diangkat sebagai Wakil Rais Syuriah PWNU Provinsi Jawa Barat, hingga akhir hayatnya pada 20 Dzulqadah 1403 H atau 28 Agustus 1983 M.
Baca juga resensi buku lainnya :
- Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
- Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
- Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.




Tambahan:
Ngaos, Mamaos dan Maenpo, seharusnya menjadi citra diri (karekter/ciri khas) masyarakat Cianjur dimanapun dia berada. Bukan hanya sebatas slogan ansich, tetapi harus “membumi” dalam pikir dan laku.
Citra diri ini (ngaos, mamaos dan maenpo) merupakan inheren dalam kehidupan santri, misalnya;
a. Ngaos (mengaji) adalah kewajiban bagi seorang santri. Ngaos/ngaji terbagi 2; ngaji kitab dan ngaji diri.
b. Mamaos (nembang), santri melakukan shalawat, puji-pujian, kasidah/rebana, dll.
c. Maenpo (silat/jaga diri), dalam dunia ponpes, santri diajari ilmu kanuragan, baik itu pencak silat (silat cimande, cikalongan, paku sari jurus 5, Jeblag, dll) ataupun olah tubuh yg lainnya. Hal itu, untuk menjaga diri para santri dari orang-orang jahat. Wassalaam…
haturnuhun pangersa, sae pisan… parantos digabungkeun dina artikel di luhur. salam..