Kesombongan Mayoritas

188

Dalam sebuah kehidupan sosial, kontak sosial dan komunikasi adalah bagian dari kehidupan manusia. Proses interaksi sosial ini pada akhirnya terjadi secara berulang-ulang dan berlangsung secara kontinue dalam membentuk norma-norma bersama. Dalam komunitas sosial, sedikit atau banyak setiap anggota masyarakat, baik orang per orang atau kelompok, mempunyai andil dalam membentuk norma-norma bersama. Pemikiran bahwa suatu kelompok, terutama yang minoritas, dianggap tidak penting, adalah cara berpikir ashabiyah ( cauvinistic ) dan dapat mengganggu proses integrasi sosial.

Dalam perspektif konstitusi negara sangat tidak relevan. Dijelaskan dalam  konstitusi ( UUD 1945 ), bahwa tiap-tiap warganegara, apapun agamanya, mempunyai hak dan kewajiban yang sama terhadap negara, serta derajad kedudukannya sama dalam hukum dan pemerintahan. Artinya, meskipun kelompok muslim jumlahnya mayoritas, hal itu tidak serta merta mempunyai dan berhak menuntut kedudukkan dan perlakuan istimewa dari negara. Negara ( pemerintah ) di dalam tujuannya mensejahterakan rakyat, tidak memilah-milah, mana yang Islam dan bukan Islam. Hubungan negara-rakyat bersifat anoniem.

Dengan demikian, dalam pembangunan, Islam dan non-Islam mendapatkan perlakukan, pelayanan, dan penanganan yang sama.

Penulis
Toufik Imtikhani, SIP.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here