Melihat Papua dengan Dua ‘Lensa’ Alfiyah ibn Malik
Oleh karena itu, melalui dua nazam Alfiyah ibnu Malik itu, kita diingatkan untuk memperkuat persatuan dan kesatuan kita sebagai bangsa Indonesia tanpa memandang ras, suku, ataupun bahasa. Sedari dulu, kita sudah dikenal sebagai bangsa majemuk yang sekaligus inklusif. Kerajaan-kerajaan Nusantara meskipun berlandaskan agama, tetapi terbuka dengan pemeluk agama yang berlainan dengan agama resmi kerajaannya.
Sejak dulu, para pendiri bangsa kita sudah bersepakat bahwa Papua merupakan bagian dari negeri ini. Kesepakatan ini harus kita jaga dan pertahankan bersama dengan memperlakukannya sebagai saudara sebangsa dan setanah air. Kita tentu ingat jikapun kita tak seagama, kita masih bersaudara dalam kenegaraan yang disebut oleh KH Ahmad Shiddiq, Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 1984-1991, sebagai ukhuwah wathaniyah.
Penulis adalah ustadz di Buntet Pesantren, Cirebon
Sumber : NU Online
Buku lain :