The news is by your side.

NU Tak Hanya Lawan Oligarki, Tapi Juga Intoleransi Ekonomi

Maka, supaya tidak salah sasaran, untuk melawannya harus juga mengerti bagaimana kapitalisme bekerja. Ia bukan orang, kelompok ataupun subjek. Ia adalah sistem. Maka tidak cukup melawan kelompok oligarki sebagai aktor utama sistem ini, melainkan juga melawan jantung sistem itu bekerja.

Kapitalisme merupakan sistem produksi-konsumsi yang berlandaskan pada setidaknya dua hal: (1) kepemilikan pribadi dan (2) orientasi akumulasi keuntungan (profit accumulation oriented). Ia berbeda dengan jual beli yang kita bayangkan sebagai pertukaran/jual-beli yang adil. Dalam jual beli uang menjadi alat tukar dari dua barang yang hendak dipertukarkan. Dalam hal ini rumusnya B-U-B, yakni masing-masing ada yang bekerja memproduksi dua barang dulu, baru uang dibutuhkan sebagai pengukur nilai yang digunakan untuk menukarkan kedua barang tersebut antar dua pihak. Sedangkan dalam kapitalisme rumusnya justru berbalik, yaitu U-B-U’, yakni uang semula (modal) harus digolang untuk memperoleh uang yang lebih besar (U aksen) dengan produksi barang sebagai perantaranya. Selanjutnya digolang lagi, membesar lagi, dan seterusnya sampai batas yang tak terhingga. Dengan kata lain dalam jual beli uang hanya alat untuk mencapai kemakmuran, sedangkan dalam kapitalisme uang adalah fitur utama untuk memperoleh pembesaran tak berhingga. Jadi kapitalisme adalah sistem dari uang untuk uang, bukan kemakmuran manusia.

Tapi apa yang jadi masalah dengan sistem U-B-U’ ini? Mengapa ia disebut intoleran? Pertama kali ia bekerja tanpa memandang energi metabolisme kerja manusia sebagai bagian dari kemanusiaannya. Ekonom (yang dididik ilmu ekonomi) kapitalis akan mengatakan bahwa surplus (keuntungan) adalah hasil selisih dari penjualan dengan biaya produksi atau pembelian suatu barang, yang oleh karenanya surplus adalah hak Si Empunya Modal. Ia tidak pernah melihat dari mana asal-usul barang itu dibuat atau diproduksi. Padahal menurut Marx yang memunculkan surplus (nilai lebih) dari suatu barang itu dihasilkan dari kerja produsen yang sesungguhnya, yaitu kaum buruh. Sebut saja, tanpa buruh garmen mengerahkan energi dan kapasitas intelektualnya, seberlimpah pun kain dan mesin jahit di pabrik, ia tidak akan berubah menjadi seperangkat model pakaian (yang mengandung surplus dibanding kain sebagai bahan bakunya) yang siap dijual.

Leave A Reply

Your email address will not be published.