Pendidikan Holistik Pesantren, Modal Utama Hadapi Tantangan Zaman
Maka tak heran jika salah satu ciri khas pondok pesantren adalah menerapkan kurikulum yang terintegrasi/terpadu (Integrated learning/integrated curriculum). Pendidikan yang terintegrasi ini bercita-cita untuk membangun manusia yang utuh, paripurna (kaffah) atau insan kamil. Dengan demikian, maka tugas pendidikan adalah mengembangkan semua potensi yang ada agar dapat hidup sebagai pribadi yang seutuhnya dan berkarakter, bukan pribadi yang terpecah (split personality) yang diakibatkan kesalahan sitem pendidikan yang hanya mengembangkan satu atau beberapa potensi (kemampuan).
Jika dilihat lebih rinci lagi, pendidikan pesantren selain untuk transfer ilmu, pembentukan karakter dan spiritual, juga tak terlepas dari konsep pengabdian masyarakat. Oleh karena itu tak heran jika pesantren dan para santrinya selalu menjadi garda terdepan dalam membela bangsa.
Ada beberapa hal yang bisa dirinci dari pola pendidikan pesantren yang terintegrasi (holistik), diantaranya adalah:
Pesantren dan Pendidikan Spiritual
Jika melihat kurikulum pendidikan pesantren pada umumnya, Pelajaran pertama yang akan diajarkan dalam pesantren kepada anak didiknya adalah dasar-dasar keimanan (tauhid/rukun iman) dan pelajaran fiqih sebagai tata cara menjalankan kewajiban agama (rukun Islam).
Dalam hal spiritual, kaum santri pasti mengenal istilah ‘nderek kiai’. Di pesantren, kiai menjadi tokoh sentral yang mampu menciptakan teladan, tontonan, dan uswah baik bagi para santri dan pengajar di lingkungan pesantren, maupun di lingkungan masyarakat.
Hubungan santri dan kiai tidak hanya sekedar transfer ilmu pengetahuan tetapi juga pendidikan jiwa bagi para santri untuk mengasah kepekaan, memperhalus budi-pekerti (akhlaqul karimah) dalam berperilaku dan berpengetahuan, dan dalam bersikap terhadap berbagai aspek kehidupan.
Pendidikan pesantren memiliki prinsip-prinsip pokok tradisi keulamaan, dengan ketiga prinsipnya: pendidikan sebagai sarana membentuk kemampuan bekerja, berkarya, dan beramal saleh. Berguru sebagai sarana utama untuk memahami pengalaman manusia, menguji dengan kritis berbagai kecenderungan dunia, dan untuk memahami karakter khusus bangsa. Pendidikan pesantren sebagai pedidikan seumur hidup dengan tradisi keagamaan Aswaja dan juga sepanjang usia kehidupan nusa-bangsa.
Baca juga resensi buku lainnya :
- Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
- Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
- Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.



