The news is by your side.

Penipuan Sektarian: Kerajaan Agung Sejagat dan Sunda Empire

Primordialisme dan Sektarianisme

Manusia sebagai mahluk berbudaya, ungkapan ini telah diakui bukan oleh manusia sendiri, dalam setiap kitab suci pun demikian. Al-Qur’an menyitir manusia sebagai khalifah, mahluk terbarukan dan penuh dengan pembaharuan, jenis mahluk seperti ini identik dengan perkembangan peradaban. Pengakuan diri kita sebagai mahluk berbudaya, berperadaban, dan mulia ini kadang membuat manusia lupa daratan. Tidak sekadar merendahkan mahluk tidak sejenis, kepada sesama manusia pun hanya karena berbeda warna kulit, muncul sikap primordial bahwa manusia ras kulit tertentu lebih unggul dari manusia ras kulit berwarna tertentu lainnya. Egoisme seperti ini lahir karena manusia telah mengklaim dirinya sebagai penguasa di bumi hingga alam semesta.

Padahal sebelum fajar zaman sejarah lahir, posisi manusia menempati anak tangga paling rendah pada piramida kehidupan. Jumlah dan kekuatan manusia menjadi bulan-bulanan predator buas. Kepiawaian manusia dalam beradaptasi karena memang telah direncakan sebagai mahluk pembaharu secara perlahan dapat merebut posisi anak tangga piramida kehidupan. Sejak zaman sejarah, manusia telah mulai melakukan kerja sama, kesepakatan, dan hubungan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya, saat spesies lainnya seperti binatang sama sekali tidak pernah memiliki pikiran melakukan koordinasi dengan sesama jenisnya. Dengan koordinasi inilah manusia sampai sekarang telah tampil sebagai mahluk superior atas mahluk lainnya. Sikap superior ini berdampak pada hal lainnya, manusia telah tampil sebagai tuan yang harus dilayani. Saat binatang dan tumbuhan dapat dikalahkan oleh manusia, mahluk berperadaban ini selanjutnya mencari-cari lagi harus memiliki lawan yang memiliki kekuatan sebanding meskipun dengan sesama manusia. 

Dalam kajian antropologi 500.000 tahun lalu telah terjadi pertempuran besar antara homo erectus melawan homo neanderthal. Homo erectus sebagai nenek moyang pengembara dapat mengalahkan neanderthal pengisi goa-goa sempit di wilayah Eropa saat ini. Di era tersebut, pertikaian itu merupakan perang besar. Setelah pertempuran tersebut, homo erectus merasa diri telah berada di posisi nyaman, lebih banyak bermalas-malasan, pada fase ini spesies mereka punah. Berbeda dengan neandertal, hominid ini karena merasa sebagai minoritas, terus bertahan, cekatan, dan dapat membuat alat-alat agar mereka tetap bertahan dalam kehidupan. Sampai 40.000 tahun lalu, Neanderthal masih berkembang sebelum terdesak oleh sapiens. Perkembangan selanjutnya melahirkan sapiens, manusia modern yang dapat bertahan sampai sekarang. Kajian antropologis ini dapat dijadikan alasan kenapa sampai saat sekarang kelompok-kelompok manusia selain menggemari koordinasi dan saling membutuhkan juga dapat dengan tiba-tiba saling serang dan berperang.

Baca juga resensi buku lainnya :

  • Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
  • Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
  • Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.
Leave A Reply

Your email address will not be published.