Penipuan Sektarian: Kerajaan Agung Sejagat dan Sunda Empire
Selama kurun waktu jutaan tahun telah menempa manusia, hubungan manusia dengan alam dan dirinya telah memperbesar ukuran otak, struktur tubuh ideal, cara-cara baru bagaimana manusia dapat mempertahankan dirinya. Evolusi yang dicetuskan oleh Darwin sebetulnya ingin menyodorkan pandangan seperti ini, tetapi pada tahap tertentu karena dicetuskan pada era transisi dari abad kegelapan ke abad pencerahan teori Darwin disederhanakan dan dibenturkan dengan konsep human fall yang menyebutkan bahwa asal-usul manusia di bumi dari kejatuhan Adam dan Hawa dari sorga, muncul anggapan bahwa manusia berasal dari kera. Kaum beragama akan berbeda pandangan jika evolusi atau perkembangan manusia menyebutkan bahwa asal-usul manusia berasal dari manusia berpikiran sederhana menjadi manusia berpikiran luas. Namun tetap saja apakah teori evolusi atau konsep kejatuhan manusia tetap saja belum dapat dibuktikan secara ilmiah, penganut teori evolusi tetap percaya bahwa teori merupakan hipotesa, sementara pada penganut human fall menyebutkan ini merupakan wilayah keimanan kami, tidak dapat diganggu gugat.
Sikap primordial telah lahir dari masa ke masa. Kekuasaan Mesir Kuno 4000 SM telah melahirkan pandangan orang-orang Mesir terutama Pharao sebagai titisan Amun Ra, dewa matahari. Bangsa-bangsa lain merupakan hamba sahaya atau budak-budak yang harus dijadikan alat. Bangsa Yahudi saat itu diperlakukan sebagai budak oleh bangsa Mesir. Bukankah bangsa Yahudi keturunan Ibrahim dari jalur Ishaq merupakan bangsa pilihan Tuhan? Klaim primordial yang ditulis ini lahir belakangan, sebagai penyemangat bahwa bangsa Yahudi harus bebas dari perbudakan. Sikap primordial Pharao dilawan dengan sikap primordial lainnya. Perbudakan oleh Mesir Kuno kepada bangsa Yahudi berlangsung selama 400 tahun.
Di belahan bumi lain, kekaisaran Persia kuno lahir bersamaan dengan kejayaan Mesir Kuno. Persia (Iran; Ras Aryan) tampil sebagai sebuah imperium besar pada zamannya. Watak bawaan sebagai manusia unggul itu tetap mengendap dalam diri manusia. Tidak hanya pada bidang social, pandangan dalam beragama pun demikian, orang Mesir Kuno menganggap hanya keyakinan mereka yang akan diterima oleh Ra, orang Persia pun demikian hanya penganut Zoroaster yang akan menempati sorga, tradisi Yudaisme dengan pandangan hetnoteisme pun demikian. Di ambang kehancuran Persia, lahir imperium Rowami Kuno. Di era Konstantin, keyakinan yang dianut oleh orang-orang Romawi merupakan paganisme, para pendeta pengembara dari Romawi Timur dapat meyakinkan Konstantin, tradisi kekeristenan mulai diadaptasi oleh kekaisaran. Sampai abad ke-3 Masehi, dua kekaisaran besar: Romawi dan Persia terus mengembangkan pengaruh-pengaruhnya, Bangsa Yahudi tetap mengembangkan tradisi-tradisi leluhurnya, keyakinan yang tidak mungkin dianut oleh bangsa lain.
Baca juga resensi buku lainnya :
- Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
- Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
- Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.



