The news is by your side.

Seks Nonmarital: Ketelitian dan Keteledoran Pemikiran Syahrur

Syahrur tidak menangkap perjalanan sejarah pemikiran Islam tentang milk al-yamin yang evolutif ini. Padahal, semua bergerak dengan mengarah pada praktek pembebasan dan spirit anti-perbudakan. Hal itu dapat dilihat dari paradigma dan perlakuan sahabat-sahabat Nabi terhadap budak tawanan. Para sahabat terlebih dahulu melakukan konsultasi kepada Nabi, menanyakan bagaimana cara Islami memperlakukan para budak. Muslim awal tidak serta merta menggunakan paradigma Jahiliyah dalam menyetubuhi budak-budak.

Sebuah riwayat dari Abu Sa‘id al-Khudri, ia berkata: Ketika Rasulullah SAW menawan kaum Auṭas, kami berkata, “Wahai Rasulullah SAW, bagaimana jika kami mengawini para wanita yang telah kami ketahui keturunan mereka dan status mereka (bersuami atau tidak)?” Lalu turunlah ayat al-Quran tentang milk al-yamin.

Pada suatu kejadian lain, seorang sahabat Nabi terlanjur bersetubuh dengan perempuan tawanan perang, tanpa sempat konsultasi. Dia pun merasa berdosa dan bermaksiat. Dia buru-buru menghadap Rasulullah untuk melaporkan kejadian, sehingga turunlah ayat tentang milk al-yamin yang membenarkan perbuatannya (Ibn Abi Hatim, Tafsīr, jild. 3, 961).

Fenomena historis tentang “konsultasi” sahabat pada Nabi dalam memperlakukan budak tawanan perang, dan perasaan berdosa mereka karena bersetubuh tanpa memastikan dasar hukum terlebih dahulu, adalah corak pergeseran paradigma, pemikiran dan sikap masyarakat Arab yang sebelumnya masih Jahiliyah. Perlahan mereka belajar hukum dan paradigma Islam.

Disertasi Abdul Aziz yang lolos dari pengujian pakar kajian islam dari UIN Sunan Kalijaga adalah contok pemikiran Islam yang evolutif, tapi karena ia cenderung repetitif atas pemikiran Syahrur maka tampaklah hanya sebatas repetisi dan afirmasi. Disertasi ini terkesan hanya mengharapkan fungsi aksiologis pemikiran Syahrur, yakni harapan adanya perubahan perundangan di Indonesia, tanpa melakukan hal lain yang jauh lebih penting, yakni kajiam konstruktif bahkan dekonstruktif atas epistemologi Syahrur yang kurang matang di mata para pengkritik. Sepanjang halaman disertasi, tidak akan ditemukan narasi para pengkritik Syahrur.

Tanpa kritik konstruktif atau bahkan dekonstruktif yang berarti, epistemologi Syahrur hanya mengalami repetisi dan itu berarti tidak ada inovasi. Padahal, perkara epistemologi yang belum aman dari keberatan-keberatan kaum akademisi tidak kalah pentingnya dibahas lagi, sebelum melompat ingin meraih apa yang bisa diraih dari fungsi aksiologis pemikiran Syahrur. Sayangnya, UIN Sunan Kalijaga meloloskan penelitian semacam itu.

*Alumnus Univeraitas al Azhar Mesir, Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Wakil Ketua Rabithah ma’ahid Islamiyah- asosiasi pondok pesantren se Indonesia- Pengurus Besar Nahdlatul ulama (PBNU) periode 2010-2015.

Baca juga resensi buku lainnya :

  • Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
  • Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
  • Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.
Leave A Reply

Your email address will not be published.