Terjemah dan Penjelasan tentang Syair-syair al Burdah

5509

بسم الله الرحمن الرحيم

Dengan mengharap ampunan Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang serta mengharap ridha-Nya, kami bermaksud menterjemahkan sya’ir-sya’ir yang begitu indah yaitu Qashidah al Burdah. Shalawat dan salam semoga tercurahlimpahkan kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad saw, keluarga beliau serta para sahabatnya. Semoga Allah SWT berkenan memberikan kami taufiq dalam menterjemahkan sya’ir-sya’ir dari al Burdah tersebut.

Qasidah al Burdah ini sangat populer di kalangan umat muslim. Qasidah tersebut adalah karya ahli sastra besar, yaitu Syekh Syarifuddin Abu Abdillah Muhammad bin Sa’id al Bushiri. Susunan qasidahnya begitu memukau karena susunan sastra dari sya’ir-sya’irnya yang bagaikan untaian ratna mutu manikam.

Melukis keistimewaan Rasulullah saw secara sempurna adalah sebuah kemustahilan, jika itu dilakukan oleh manusia atau siapapun terkecuali hanya Allah SWT. Akan tetapi para Mutaakhirin berpandangan bahwa memuji serta mengagungkan Rasulullah saw berikut sifat-sifatnya yang terpuji serta mulia itu dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT serta sebagai bentuk kecintaan sekaligus kepatuhan kepadanya, maka para penyair berlomba-lomba membuat sya’ir yang berisikan pujian-pujian serta sanjungan-sanjungan kepada Nabi Muhammad saw, tak terkecuali penya’ir Burdah ini.

Tujuan awal penyair dalam membuat karyanya yang terkenal ini dimaksudkan agar ia mendapatkan kesembuhan atas penyakit yang telah lama diidapnya yaitu kelumpuhan pada sebagian anggota badannya dan tak pernah mendapat kesembuhan dari dokter.

Al kisah, setelah pengarang selesai mengarang syairnya, di dalam mimpi ia berjumpa dengan Rasulullah saw. Beliau mengusapkan tangan dan menyelimuti badannya dengan baju yang dipakainya.

Sebagaimana kebiasaan para penyair terdahulu dalam membuat sya’ir mereka seringkali menggunakan metode ‘TAJRIED’, sang penyair ini pun menggunakannya. Ia membagi dirinya seolah-olah menjadi dua orang, sedang pada hakekatnya hanya satu, yaitu diri penyair sendiri. Satu memuji dan yang lain mencela, satu bertanya dan yang lain menjawab. Hal ini sebenarnya mencerminkan lambang-lambang cinta sebuah imajinasi seakan-akan ia tidak punya banyak teman.

Agar dapat dipahami secara global, maka berikut ini kami akan menjelaskan syair-sya’ir mana saja yang merupakan bentuk pertanyaan dan mana saja yang merupakan jawaban:
Pada bait pertama sampai yang kedelapan yakni dari:

أمن تذكر جيران – وأثبت الوجد

adalah bentuk-bentuk pertanyaan dari al Bushiri selaku penanya. Selebihnya adalah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh pihak penanya.

Pada bagian syair-sya’ir yang berbentuk pertanyaan sang penyair selaku penanya berusaha mendapat jawaban atas berbagai pertanyaan mengenai hebatnya cinta yang dialami oleh al Bushiri selaku pihak yang akan menjawab pertanyaan si penanya.

Penyair selaku penanya, ia mempertanyakan banyak hal terkait cintanya yang tak bisa dipungkiri akibat tanda-tanda dan bukti-bukti yang begitu nyata yang terlihat pada dirinya.

Dan pada bagian syair-sya’ir yang berbentuk jawaban penyair selaku penjawab berusaha gigih pula menjawab pertanyaan-pertanyaan si penanya dengan jawaban yang begitu memukau. Di samping itu ia juga berharap itu merupakan nasehat bagi kaum muslim secara umum.

Untuk lebih jelasnya mari kita ikuti dengan seksama perluasan dari sya’ir-sya’ir beliau yang indah ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here